SportlinkNews - Balap Formula 1 merupakan olahraga yang padat modal. Butuh biaya sangat besar untuk bisa berkompetisi di arena balap jet darat ini.
Selain segala hal yang berkaitan dengan teknologi, hal lain seperti kesehatan mental pembalap juga membutuhkan biaya, setidaknya untuk menjaga mental pembalap tetap sehat.
Mantan pembalap Red Bull yang kini bernaung di Cadillac F1 Team, Sergio Perez, mengungkapkan bahwa Red Bull mendanai sesi terapi yang mahal untuk mendukungnya saat dirinya membalap untuk tim tersebut.
Perez bergabung dengan Red Bull pada tahun 2021 setelah Pierre Gasly dan Alex Albon kesulitan di mobil kedua tim.
Tetapi ia hanya meraih satu kemenangan tahun itu. Sementara rekan setimnya, Max Verstappen, memenangkan 10 grand prix dalam perjalanannya menuju gelar juara dunia pertamanya.
“Begitu saya tiba di Red Bull, di balapan pertama, ketika saya tidak memberikan hasil, [mereka mengatakan kepada saya] ‘Yang Anda butuhkan adalah seorang psikolog, Anda harus menemui seorang psikolog’,” kata Perez kepada podcast Cracks. Jadi, pembalap Meksiko itu melakukannya.
Baca Juga: Jadwal Final Kompetisi Sepak Bola di Benua Eropa Sepanjang 2026
“Suatu hari saya tiba di pabrik Red Bull dan mereka memberi tahu saya, ‘Hei, ada tagihan untukmu’ – £6.000 (Rp135 juta) dari psikolog."
"Saya memberi tahu mereka, ‘Ah, bisakah kalian mengirimkannya ke Helmut [Marko, penasihat Red Bull]? Dia akan membayarnya’. Itu £6.000 untuk satu panggilan,” katanya sambil tertawa.
“Lalu Helmut bertanya kepada saya, ‘Hei, bagaimana hasilnya?’. Saya menjawab, ‘Sempurna, dengan sesi ini kita sudah siap’."
Baca Juga: Semangat Membara Pemain Muda Persija Melawan Persib
"Dan begitulah kami melanjutkan selama tiga tahun, kan? Setelah disembuhkan oleh psikolog, hasilnya mulai terlihat. Ya, panggilan itu berhasil,” ujar Perez.
Meskipun konsisten meraih podium dan sesekali memenangkan balapan, Perez terus kesulitan dibandingkan dengan Verstappen dan performanya merosot pada tahun 2024 di balik kemudi RB20 yang sulit dikendalikan, yang menyebabkan kepergiannya dari tim.