Brasil ingin memainkan sepak bola yang indah. Tapi mereka tidak lagi memiliki bakat khas Brasil untuk mengalahkan lawan dengan teknik dan inspirasi.
Mereka ingin pragmatis, tetapi mereka kekurangan ketenangan, kepastian, dan ketegasan tim-tim Eropa.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Bagaimana Messi Singkirkan Ronaldo?
Misalnya, melawan Norwegia, Selecao menciptakan setidaknya tiga peluang besar, termasuk penalti, tetapi gagal mencetak gol. Hanya ketika Neymar membentur tiang gawang pada penalti lainnya barulah mereka berhasil mencetak gol hiburan.
Mereka memiliki Vinicius untuk menciptakan terobosan. Tapi kekurangan beberapa pemain untuk mendukungnya ketika Vinicius tampil kurang maksimal.
Mereka memiliki Neymar sebagai simbol emosi, tetapi Neymar tahun 2026 bukanlah Neymar yang mampu membawa tim melewati malam-malam yang menegangkan. Melawan Norwegia, penampilannya tampak lebih seperti "kecurangan" daripada ungkapan kepercayaan.
Baca Juga: Pembalap Indycar Ikut Pantau Piala Dunia 2026 di Sela-sela Balapan Akhir Pekan
Itulah perbedaan terbesar antara Brasil sekarang dan Brasil dalam ingatan kita.
Generasi-generasi hebat sebelumnya tidak hanya memiliki bintang, tetapi juga pemimpin di setiap posisi. Ketika Pele atau Ronaldo bersinar, di belakang mereka ada tim yang terorganisir dengan baik, penuh kepribadian, dan mampu mengendalikan tempo permainan.
Brasil saat ini cenderung terjebak dalam situasi reaktif. Mereka bisa meledak dalam sekejap, tetapi tidak dapat mempertahankan dominasi selama 90 menit.
Mereka dapat menciptakan peluang, tetapi seringkali kurang sentuhan akhir. Mereka mungkin dominan dalam reputasi, tetapi kalah dalam performa.
Baca Juga: Didier Deschamps Pilih Fokus Jaga Filosofi Positif Skuad Prancis
The Guardian pernah menunjukkan bahwa Brasil memasuki Piala Dunia 2026 di bawah tekanan yang sangat besar setelah 24 tahun tanpa gelar, mengingat fakta bahwa tim tersebut hanya mencapai semifinal sekali sejak kemenangan mereka pada tahun 2002 dan telah mengalami kampanye kualifikasi yang bergejolak.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya satu pertandingan melawan Norwegia. Itu adalah konsekuensi dari proses panjang di mana Brasil secara bertahap kehilangan keunggulan yang pernah menempatkan mereka di atas negara-negara lain di dunia.
Sepak bola Brasil kontemporer masih menghasilkan pemain-pemain berkualitas tinggi, tetapi tim nasional mereka bukan lagi puncak alami dari ekosistem tersebut.