SportlinkNews - Laga pramusim dua raksasa sepak bola Eropa, Chelsea dan AC Milan, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, 8 Agustus mendatang, tidak hanya diproyeksikan sebagai tontonan kelas dunia.
Pertandingan tersebut juga diharapkan menjadi momentum untuk menggerakkan industri olahraga dan memperkuat sektor sport tourism di Indonesia.
Kedatangan dua klub elite Eropa tersebut diharapkan memberi efek ganda bagi perekonomian, terutama sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, UMKM, dan industri olahraga.
Baca Juga: Ketegangan Meningkat, Bos LaLiga Pertanyakan Tata Kelola FIFA di Bawah Gianni Infantino
Deputi Pengembangan Industri Olahraga Kemenpora Arlan Perkasa mengatakan, penyelenggaraan event olahraga internasional harus dilihat sebagai peluang ekonomi, bukan sekadar kegiatan yang membutuhkan pembiayaan.
"Sesuai arahan Menteri Pemuda dan Olahraga, olahraga harus menjadi revenue center bagi Indonesia, bukan sekadar cost center. Karena itu, event internasional seperti ini diharapkan memberikan dampak ekonomi yang nyata," ujar Arlan.
Menurutnya, pertandingan antara Chelsea dan AC Milan menjadi contoh bagaimana olahraga dapat menciptakan nilai ekonomi baru.
Baca Juga: Tekan Trik Penguluran Waktu, Liga Primer Inggris Perketat Aturan Penanganan Cedera Kiper
Selain menghadirkan hiburan bagi masyarakat, event tersebut juga membawa efek berganda bagi berbagai sektor pendukung.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mempertegas, bahwa kedatangan klub-klub besar dunia ke Indonesia merupakan langkah positif dalam mengubah cara pandang terhadap industri olahraga nasional.
Erick menegaskan, olahraga saat ini tidak lagi hanya identik dengan pengeluaran anggaran, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai sumber pendapatan negara.
Baca Juga: Jurgen Klopp Fokus Bangun Kekuatan Jerman dari Nol
"Jangan sampai ada persepsi bahwa olahraga itu hanya menjadi beban. Semua orang berpikirnya hanya soal biaya, biaya, dan biaya. Padahal olahraga saat ini sudah menjadi revenue center, menjadi sumber pendapatan tambahan bagi negara," kata Erick.
Menurutnya, duel Chelsea kontra AC Milan memberikan peluang ekonomi melalui berbagai aktivitas, mulai dari penjualan tiket, pemasukan pajak, hingga promosi Indonesia di mata dunia.
"Kalau ada pertandingan seperti Chelsea melawan AC Milan, ada transaksi penjualan tiket, ada pajak yang masuk. Belum lagi dampak lainnya, seperti promosi Indonesia ke dunia," ujarnya.
Baca Juga: Tundukkan Macan Kemayoran, Pelatih Persebaya Bernardo Tavares Masih Harus Berbenah
Erick menyebut, pemerintah saat ini terus mendorong pertumbuhan ekonomi baru melalui sektor industri olahraga dan sport tourism.
Salah satu langkah konkret dilakukan dengan menghadirkan deputi khusus yang menangani pengembangan industri olahraga di Kemenpora.
Ia juga mengapresiasi peran promotor swasta yang mampu menghadirkan pertandingan bertaraf internasional ke Indonesia.
Baca Juga: Bersiap Hadapi Port FC, Shin Tae-yong: Persija akan Bermain Lebih Baik Lagi
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci dalam memperbesar potensi ekonomi olahraga.
"Kami sangat mengapresiasi pihak swasta atau para promotor yang mampu membawa event-event kelas dunia ke Indonesia. Kami pastikan pemerintah akan mendukung semaksimal mungkin," tutur Erick.
Selain memberikan dampak ekonomi, Erick menilai laga Chelsea melawan AC Milan juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan eksposur sepak bola Indonesia di tingkat global.