SportlinkNews - I.League dan Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) resmi berkolaborasi dalam kampanye nasional bertajuk Anti Racism & Anti Bullying untuk I.League musim kompetisi 2025/2026.
Inisiatif ini menandai langkah nyata dunia sepak bola Indonesia dalam melawan diskriminasi dan membangun atmosfer kompetisi yang lebih sehat, aman, dan beradab.
Kolaborasi ini bukan muncul tanpa alasan. Dalam dua musim terakhir, berbagai insiden rasisme dan perundungan terhadap pemain masih menghiasi dunia sepak bola Tanah Air.
Beberapa kasus sempat viral, seperti ejekan bernada rasial kepada pemain asal Papua di salah satu laga Liga 1 musim lalu, serta komentar bernada diskriminatif terhadap pemain asing di media sosial klub.
Tak hanya itu, sejumlah pemain lokal pun mengaku pernah menjadi korban perundungan daring akibat kesalahan kecil di lapangan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa problem rasisme dan cyber bullying belum sepenuhnya hilang dari sepak bola Indonesia.
Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. "Kampanye ini bukan sekadar simbol, tetapi gerakan bersama untuk melindungi semua insan sepak bola. Sepak bola adalah ruang untuk semua, tanpa perbedaan warna kulit, asal daerah, atau kepercayaan," ujarnya saat peluncuran kampanye di Jakarta, akhir pekan lalu.
Ferry juga menambahkan, kerja sama ini mencakup langkah-langkah konkret, mulai dari edukasi publik, pengawasan perilaku suporter, hingga penegakan sanksi tegas bagi pelaku diskriminasi. I.League juga berencana melibatkan klub-klub dan perwakilan komunitas suporter dalam lokakarya anti-diskriminasi yang akan digelar sebelum putaran kedua musim ini.
Sementara itu, Presiden APPI Andritany Ardhiyasa menyebut kolaborasi ini sebagai bentuk keberpihakan terhadap masa depan pemain dan sepak bola nasional. "Banyak pemain, terutama dari daerah atau latar belakang berbeda, masih menerima perlakuan tidak pantas di stadion dan media sosial. Dengan sinergi ini, kami ingin memastikan mereka memiliki ruang aman untuk berkembang tanpa rasa takut," tegasnya.
Selain kampanye sosial, kerja sama strategis ini juga akan memperkuat kanal komunikasi antara pemain dan operator liga. Termasuk sistem mediasi yang lebih transparan dalam menyelesaikan isu atau sengketa yang melibatkan pemain, klub, atau pihak ketiga.
Melalui gerakan ini, I.League dan APPI berharap seluruh elemen sepak bola, mulai dari pemain, klub, suporter, hingga media harus ikut berperan aktif dalam menolak segala bentuk diskriminasi dan kekerasan verbal.
"Kalau kita ingin sepak bola Indonesia maju, semua harus berangkat dari rasa saling menghormati. Stadion seharusnya menjadi tempat berbagi semangat, bukan kebencian," tutup Ferry.
Artikel Terkait
Soal Kericuhan Suporter Erick Thohir Tegas: I League dan Klub Harus Tanggung Jawab!
Situasi Tidak Kondusif, I League Tunda Laga PSM Makassar vs Persebaya di Pekan Keempat Super League 2025/26
Demontrasi Ricuh I League Tunda Laga Persita vs Semen Padang FC dan Persib vs Borneo FC Hingga Situasi Kondusif
I League: Sepak Bola adalah Ruang Persatuan, Mari Jaga Rumah Kita, Kota dan Stadion Kita
Dukung Program EPA Future Stars I League Gelar Workshop untuk Direktur Akademi dan Pelatih Kepala U16