liga-indonesia

Skandal Fee Pemain: APSSI Tunjuk Plt, Yeyen Tumena Terancam Jalur Hukum

Rabu, 25 Juni 2025 | 23:45 WIB
Logo Klub Liga 1 2024/25, Malut United FC.

SportlinkNews - Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) menonaktifkan Yeyen Tumena dari jabatannya sebagai Ketua APSSI. 

Keputusan itu berdasarkan hasil rapat Komite Eksekutif (Exco) yang digelar secara virtual pada Selasa, 24 Juni 2025.

Rapat tersebut dihadiri enam dari tujuh anggota Exco, yakni Emral Abus, Rahmad Darmawan, Bambang Nurdiansyah, Indra Sjafri, Mundari Karya, dan Fakhri Husaini.

Baca Juga: Dewa United Persiapkan Diri untuk Piala Presiden, Pemain Baru Langsung Gabung Latihan

Dikutip dari rilis resmi APSSI, Rabu, 25 Juni 2025, para Exco menilai Yeyen membutuhkan ruang untuk fokus dan menenangkan diri setelah situasi yang berkembang usai pemecatannya bersama Imran Nahumarury dari klub Liga 1, Malut United FC.

Keduanya dicopot karena dugaan pelanggaran serius yang berakar sejak masih menangani tim di Liga 2.

"Coach Yeyen Tumena perlu fokus dan mendapatkan ketenangan dalam menghadapi situasi pelik. APSSI harus memberikan solusi," ujar Rahmad Darmawan.

Imran Nahumarury yang sebelumnya merupakan pelatih Malut United FC juga dinonaktifkan dari posisinya di Badan Teknik Divisi Sepak Bola APSSI. 

Baca Juga: PBSI Siapkan Keputusan Penting: Perombakan Ganda Maksimal Akhir Tahun

Untuk sementara, posisi Ketua APSSI akan dijabat oleh Zuchli Imran Putra (Divisi Legal APSSI) sebagai Pelaksana Tugas (Plt) hingga kongres pemilihan ketua baru digelar.

Praktik ilegal

Pemecatan Yeyen dan Imran dari Malut United bukan tanpa alasan. Wakil Manajer Malut United, Asghar Saleh, menyebutkan bahwa keduanya terlibat dalam praktik menyimpang seperti pemotongan gaji dan pengambilan fee pemain, termasuk dua pemain asing. 

Hal itu, dinilai manajemen klub, telah mencederai nilai-nilai profesionalisme klub.

Baca Juga: Lewat Mobitron, Persib Umumkan Rekrutan Baru Wiliam Marcilio dan Luciano Guaycochea Hadapi Liga 1 2025/26

"Kami tidak bisa menutup mata, ada pemain lokal yang mengaku harus menyetor uang agar bisa bermain. Fee pemain juga diambil, itu pelanggaran berat," tegas Asghar.

Menurut Direktur PT Malut Sejahtera, Dirk Soplanit, praktik ini sudah terpantau sejak dua tahun lalu.

Ia mencontohkan adanya pengambilan fee 10 persen dari kontrak pemain asing senilai Rp 1 miliar oleh Direktur Teknik, dan pembagian fee kepada pelatih.

Imran sendiri telah mengirimkan surat permintaan maaf tertulis kepada manajemen Malut United dan berjanji tidak mengulanginya serta tidak membuat klarifikasi sepihak di media. Manajemen pun menerima permintaan maaf itu dengan lapang dada.

Baca Juga: Jordan Tatum 3 Memakai Tiga Bintang untuk Warna Hitam/Putih

Namun, berbeda untuk Yeyen. Ia hingga saat ini, menurut manajemen Malut United FC belum menunjukkan itikad serupa. Karena hal itu, maka pihak klub pun mengisyaratkan akan membawa kasus ini ke ranah hukum.

"Kalau Yeyen tidak ada itikad baik, kami akan bawa ke jalur hukum. Ini bukan soal pribadi, tapi soal menjaga integritas klub dan sepak bola Indonesia," tegas Asghar.

Tags

Terkini