SportlinkNews - Peluncuran BRI Super League 2025/26 bukan sekadar penggantian nama kompetisi, tetapi merupakan simbol dari gerakan masif menuju modernisasi sepak bola nasional.
Operator liga I.League menegaskan bahwa transformasi kali ini bersifat menyeluruh, menyasar aspek teknis, visual, komersial, hingga dampak sosial-ekonomi.
Ini demi menyongsong era baru sepak bola Indonesia yang lebih profesional dan berstandar internasional.
Baca Juga: Darwin Nunez Masuk Radar AC Milan, Al Hilal Jadi Pesaing Berat
Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menyebut transformasi ini sebagai "tonggak sejarah" dalam perjalanan sepak bola Tanah Air.
Ia menjelaskan bahwa di tahun keempat kolaborasi dengan sponsor utama, pihaknya memutuskan untuk membuat terobosan besar dengan memperkenalkan BRI Super League sebagai identitas baru liga.
"Kami tidak hanya mengganti nama, tapi juga membenahi sistem kompetisi, teknologi pendukung, dan transparansi dalam tata kelola. Inilah bentuk transformasi untuk mendekati standar global," kata Ferry Dalam peluncuran Super League di Studio Emtec, SCTV Tower, Jakarta, Minggu, 3 Agustus 2025.
Baca Juga: Liverpool Mundur dari Perburuan Alexander Isak Usai Tawaran Ditolak Newcastle
Modernisasi juga menyentuh aspek teknis yang selama ini menjadi sorotan, seperti kualitas pencahayaan stadion, penggunaan kamera broadcast yang lebih canggih, serta penyempurnaan sistem VAR.
Langkah-langkah ini tidak hanya meningkatkan pengalaman penonton, tetapi juga membangun fondasi profesionalisme di tingkat klub dan penyelenggara.
Lebih jauh dari aspek olahraga, BRI Super League juga ditargetkan sebagai penggerak ekonomi. CEO BRI, Hery Gunardi, menyebut bahwa liga ini memiliki potensi besar dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional, terutama di sektor UMKM.
Baca Juga: Debut Cemerlang Kevin Diks, Jadi Andalan Baru Borussia Monchengladbach
"Berdasarkan kajian BRI Research Institute, Super League diperkirakan mampu menciptakan perputaran ekonomi hingga Rp10,5 triliun. Ini bukan sekadar sepak bola, ini adalah penggerak ekonomi rakyat," ujar Hery.
Tak hanya soal ekonomi, Hery menegaskan bahwa liga ini juga menjadi wadah penting dalam pencarian dan pengembangan bakat muda.
Dengan kualitas kompetisi yang meningkat, eksposur dan jam terbang para pemain juga meningkat, sebuah faktor penting dalam mencetak generasi emas sepak bola Indonesia.
Baca Juga: Tinjau Kesiapan MotoGP Indonesia Menpora Dito Ariotedjo Cicipi Aspal Sirkuit Mandalika
Dari sisi media, Direktur SCM, Harsiwi Achmad, menyoroti bahwa transformasi juga membawa dampak pada lanskap hiburan di Indonesia.
Pertandingan sepak bola kini tidak hanya digemari oleh pria, tetapi juga menjangkau perempuan, remaja, bahkan ibu rumah tangga.
"Sepak bola sudah menjadi bagian dari hiburan keluarga. Musim lalu, lebih dari 50% tayangan top di televisi nasional diisi oleh laga BRI Liga 1," jelasnya.
Baca Juga: Son Heung-min Pemain Korea yang Betah di Tottenham Hotspur Catat 450 Penampilan
Musim 2025/26 akan menyajikan 306 pertandingan dari 18 klub peserta, dimainkan di 14 stadion, dengan jam tayang utama pada pukul 15.00 WIB dan 18.30 WIB. SCM memastikan bahwa kualitas tayangan musim ini akan lebih baik dari sebelumnya.
Transformasi ini, ditambahkan Ferry, bukan hanya tentang kompetisi, tetapi tentang masa depan industri sepak bola nasional.