SportlinkNews - Manchester City sukses menjadi juara Piala Liga Inggris 2025/26. Kepastian tersebut didapatkan usai mengandaskan perlawanan Arsenal pada laga final dengan skor 2-0 di Stadion Wembley, Senin (23/3) dini hari WIB.
Hasil ini dianggap di luar perkiraan banyak pihak lantaran tren negatif yang sedang membayangi performa Manchester City dalam beberapa pekan terakhir. Sebaliknya, Arsenal datang dengan status tim unggulan yang tampil konsisten sepanjang musim dan memiliki kedalaman skuad yang jauh lebih prima tanpa gangguan cedera berarti.
Namun, prediksi di atas kertas terpatahkan ketika talenta muda Nico O'Reilly muncul sebagai pahlawan kemenangan dengan memborong dua gol. Keberhasilan ini tidak hanya mengejutkan para penggemar sepak bola, tetapi juga membuat manajer, Pep Guardiola, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Baca Juga: Aprilia Kuasai GP Brasil, Marco Bezzecchi dan Jorge Martin Rebut Podium 1-2
"Hari ini adalah tantangan besar, dan tidak ada (kemenangan) yang didapat secara cuma-cuma," ungkap pelatih asal Spanyol tersebut saat berbicara kepada TNT Sports seusai laga.
Guardiola bahkan terang-terangan menyebutkan performa Manchester City, terutama setelah turun minum, berada di luar ekspektasinya. Ia memuji perjuangan keras yang dilakukan anak asuhnya tersebut.
"Tapi terus terang, di babak kedua, aku bahkan tidak percaya kami bisa melakukan itu melawan Arsenal," ujarnya.
Baca Juga: 10 Pemain Real Madrid Tuntaskan Drama 5 Gol dalam Derbi
Kemenangan ini sekaligus mengukuhkan posisi Guardiola sebagai manajer paling sukses sepanjang sejarah Piala Liga Inggris. Ia kini telah mengoleksi lima gelar juara, sebuah pencapaian yang melampaui rekor para sosok legendaris seperti Brian Clough, Sir Alex Ferguson, dan Jose Mourinho.
Melihat kembali jalannya pertandingan, Guardiola sempat menyimpan keraguan besar di pinggir lapangan mengenai kemampuan timnya untuk benar-benar mendikte permainan Arsenal. Ketidakpastian itu perlahan memudar seiring dengan transformasi drastis yang diperlihatkan skuad The Citizens pada babak kedua final tersebut.
Jika menilik statistik di paruh pertama, dominasi Manchester City sebenarnya terasa sangat hambar karena mereka hanya menguasai bola tanpa arah. Meski memegang kendali hingga 60%, The Citizens gagal menciptakan satu pun ancaman nyata ke gawang Arsenal yang dikawal ketat oleh lini pertahanan mereka.
Baca Juga: Everton 3 Chelsea 0: Bencana Pertahanan saat Liam Rosenior Kalah Empat Kali Berturut-turut
Kemandulan lini serang Manchester City di babak pertama tercermin dari nihilnya tembakan tepat sasaran serta angka expected goals (xG) yang sangat rendah, yakni hanya 0,33. Hal ini sempat memberikan angin segar bagi kubu Arsenal yang merasa telah berhasil menetralisir pola serangan khas sang juara bertahan.
Namun, segalanya berubah total setelah jeda antarbabak ketika Manchester City tampil dengan intensitas serangan yang jauh lebih berani dan efektif. Mereka berhasil mencatatkan delapan tembakan di babak kedua, melampaui agresivitas Arsenal, serta unggul tipis dalam kualitas peluang yang tercipta di area terlarang.
Artikel Terkait
Misi Luar Biasa Real Madrid Kalahkan Manchester City di Etihad
Manajer Spanyol Siap Mengambil Alih Manchester City Jika Pep Guardiola Pergi
Jadwal Pertandingan Liga Primer Inggris Pekan ke-31, Duel Manchester City vs Crystal Palace Ditunda
Manchester City Luncurkan Klub Sepak Bola Remaja di Amerika Serikat
Pep Guardiola Jelang Final Kontra Arsenal, Momen Kebangkitan Manchester City Sudah Sangat Dekat