“Rivalitas kami membuat saya terus belajar dan berkembang."
"Untuk mengalahkannya, saya harus berpikir keras, bekerja lebih keras, dan mempersiapkan diri dengan matang,” ujar pelatih asal Spanyol itu.
“Saya merasa Klopp telah memberi saya banyak hal, bukan hanya dalam strategi permainan, tapi juga dalam bagaimana saya melihat sepak bola,” tambahnya.
Rivalitas keduanya sudah dimulai sejak di Jerman, tepatnya pada musim 2013-2014.
Saat itu Guardiola menukangi Bayern Muenchen, sedangkan Klopp menjadi pelatih Borussia Dortmund.
Baca Juga: Harapan Menyempit, Indonesia U-17 Harus Menang Besar di Laga Terakhir Demi Jaga Asa ke 32 Besar
Pertarungan keduanya kemudian berlanjut di Inggris setelah Guardiola bergabung dengan Manchester City dan Klopp memimpin Liverpool.
Hingga kini, keduanya sudah bertemu sebanyak 30 kali di berbagai kompetisi.
Dari total pertemuan tersebut, Klopp unggul tipis dengan 12 kemenangan, sementara Guardiola mencatat 11 kemenangan, dan 7 laga lainnya berakhir imbang.
Baca Juga: Timnas U-17 Indonesia Wajib Kalahkan Honduras Demi Lolos 32 Besar Piala Dunia U-17 2025
Pertemuan terakhir mereka terjadi pada musim 2023-2024 yang berakhir dengan skor 1-1.
Guardiola mengakui, duel melawan Klopp selalu menghadirkan adrenalin tersendiri karena kedua tim memiliki karakter permainan menyerang dan intensitas tinggi.
“Pertandingan melawan tim asuhan Klopp selalu menantang, selalu memaksa saya menemukan solusi baru,” ujarnya.
Baca Juga: Arsene Wenger Sebut Florian Wirtz Merusak Liverpool, Arne Slot: Ia Hanya Butuh Waktu