SportlinkNews - Pelatih kepala potensial Chelsea, Liam Rosenior, telah menjelaskan kepada The Blues bagaimana pendekatannya dalam mengelola ruang ganti. Sebuah aspek yang kini menjadi perhatian utama klub.
Perpisahan dengan Maresca diumumkan pada akhir 2025 lalu.
Pelatih asal Italia tersebut meninggalkan Stamford Bridge kurang dari enam bulan setelah menutup musim debutnya dengan catatan prestasi yang cukup impresif, termasuk gelar Piala Dunia Antarklub dan Conference League.
Baca Juga: Dewa United Masih Loyo, Wajib Kobarkan Semangat Juang
Ia juga sukses mengantar Chelsea kembali ke Liga Champions, meski performa tim di fase liga kompetisi Eropa musim ini masih jauh dari kata aman.
Kini, fokus Chelsea sepenuhnya tertuju pada masa depan. Manajemen klub disebut terkesan dengan progres Strasbourg di bawah arahan Rosenior, terutama dalam hal pembangunan tim dan stabilitas internal.
Hubungan kepemilikan antara Chelsea dan Strasbourg melalui konsorsium BlueCo turut membuat nama Rosenior semakin relevan dalam bursa pelatih.
Baca Juga: Tahun Penuh Kegagalan, Jens Raven Jadikan 2025 Sebagai Modal Bangkit
Dalam sejumlah kesempatan sebelumnya, Rosenior pernah menjabarkan prinsip kepemimpinannya yang menekankan kepercayaan dan kedewasaan pemain.
Ia dikenal tidak gemar menerapkan aturan kaku, bahkan menghindari hukuman sebagai instrumen kontrol.
Bagi Rosenior, rasa tanggung jawab justru lahir dari kebebasan yang diberikan. Ia menilai pemain profesional harus mampu menjaga sikap tanpa perlu dibatasi aturan berlebihan.
Baca Juga: Dicukur Arsenal, Unai Emery Tetap Bangga dengan Skuatnya: Kami Ambisius Sekaligus Realistis
Pendekatan tersebut, menurutnya, justru efektif membangun respek timbal balik di dalam tim. Pengalaman awalnya di Prancis menjadi bukti nyata berjalannya filosofi tersebut.
Saat memimpin rombongan pemain muda Strasbourg dalam tur pramusim, Rosenior memilih tidak memberlakukan pembatasan khusus. Hasilnya justru mengejutkan banyak pihak, karena tim menunjukkan sikap disiplin dan profesional secara alami.
Pelatih berusia 41 tahun itu juga realistis memandang dinamika sepak bola modern. Ia menyadari bahwa kontrol mutlak pelatih atas pemain bukan lagi kenyataan saat ini.
Baca Juga: Hadapi Liverpool, Dominic Calvert-Lewin Berpeluang Menambah Rekor Mencetak Gol Terpanjang di Liga Primer
Menurut Rosenior, hubungan yang sehat antara pelatih dan pemain menjadi kunci utama untuk menjaga ruang ganti tetap solid. Ia meyakini bahwa pendekatan manusiawi akan menciptakan loyalitas.
Pemain yang merasa dihargai, kata Rosenior, akan membalasnya dengan komitmen penuh di lapangan. Inilah prinsip yang terus ia pegang dalam membangun tim.
Sebagai pengagum Sir Alex Ferguson, Rosenior menempatkan budaya klub sebagai fondasi utama sebelum berbicara soal taktik.
Baca Juga: Kevin Diks Kenang 2025 Penuh Momen Berkesan Bersama Timnas Indonesia Hingga Keluarga
Baginya, sistem permainan hanya akan efektif jika para pemain memiliki keterikatan emosional satu sama lain dan dengan visi pelatih.
Sementara itu, Chelsea juga memastikan beberapa nama tidak masuk dalam radar. Cesc Fabregas, meski tampil menjanjikan bersama Como di Serie A, tapi tidak dipertimbangkan untuk posisi pelatih kepala.
Begitu pula Roberto De Zerbi yang kini menangani Marseille. Serta, legenda klub John Terry, yang semuanya tidak termasuk dalam rencana manajerial The Blues.