SportlinkNews - Liverpool berada dalam situasi krusial terkait masa depan Ibrahima Konate. Bek tengah asal Prancis itu memasuki bulan-bulan terakhir kontraknya, yang akan berakhir pada akhir musim ini.
Jika tidak ada kesepakatan baru, Liverpool berisiko kehilangan Konate secara gratis pada akhir Juni. Maka dari itu The Reds harus bergerak cepat untuk mengambil keputusan.
Di tengah ketidakpastian itu, kapten Liverpool, Virgil van Dijk, secara terbuka menyuarakan harapannya. Ia berharap agar Konate tetap bertahan di Anfield.
Baca Juga: Persebaya Dihantui Cedera Pemain, Bernardo Tavares Optimis Petik Kemenangan Melawan Bhayangkara FC
Van Dijk menilai kompatriotnya di lini belakang tersebut bukan hanya pilar di atas lapangan. Akan tetapi, ia menyebut Konate juga figur penting di ruang ganti.
"Jelas saya ingin dia (Konate) tetap tinggal. Dia adalah sosok penting di lapangan. Itulah yang dilihat semua orang, tetapi di luar lapangan juga, dia adalah salah satu pemimpin. Dia luar biasa dan menurut saya, bek tengah kelas dunia," kata Van Dijk dikutip dari The Independent.
Manajemen Liverpool telah mengambil langkah antisipatif pada akhir jendela transfer Januari dengan merekrut bek muda Rennes Jeremy Jacquet. Pemain berusia 20 tahun tersebut didatangkan dengan biaya 55 juta paun sekitar Rp1,26 triliun.
Profil Jacquet disebut-sebut memiliki kemiripan dengan Konate. Oleh karena itu memunculkan spekulasi bahwa Liverpool tengah menyiapkan skenario terburuk.
"Saya hanya bisa berbuat sebatas itu, tetapi itu ada di tangan klub dan dirinya sendiri, jadi mari kita lihat apa hasilnya," ucapnya..
Situasi yang dihadapi Konate mengingatkan pada pengalaman Van Dijk musim lalu. Ia sempat berada dalam kebuntuan negosiasi kontrak bersama Mohamed Salah ketika keduanya memasuki enam bulan terakhir masa kerja sebelum akhirnya menyepakati perpanjangan pada April.
Baca Juga: Honda Kirim Sinyal Kebangkitan, Alberto Puig: Kami Ingin Menang Sesegera Mungkin
Ketidakpastian kontrak Konate pun menjadi perbincangan sepanjang musim. Van Dijk mengakui komunikasi di antara mereka tetap terbuka, namun proses negosiasi tidak pernah sederhana.
"Kami berteman, kami membicarakan semuanya. Ini adalah sebuah proses dan mari kita lihat apa hasilnya," ujarnya.