SportlinkNews - Kritik tajam meluncur dari legenda sepak bola Belanda, Ruud Gullit, usai duel panas Derbi London antara Arsenal melawan Chelsea. Mantan penggawa The Blues tersebut mengaku sangat tidak puas dengan kualitas permainan yang tersaji dalam laga besar itu.
Pertandingan yang mempertemukan dua rival sekota itu berlangsung di Stadion Emirates akhir pekan lalu. Meski berakhir dengan skor tipis 2-1 untuk kemenangan Arsenal, jalannya laga justru meninggalkan kesan negatif bagi Gullit.
Satu hal yang menjadi sorotan utama adalah cara kedua tim mencetak angka. Seluruh gol yang tercipta dalam pertandingan tersebut murni berasal dari skema bola mati, tepatnya melalui tendangan sudut.
Baca Juga: Jadwal Lengkap NBA 2026: Play-In 14 April, Final Mulai 3 Juni
Arsenal berhasil menyarangkan dua bola ke gawang lawan berkat aksi William Saliba dan Jurrien Timber yang memaksimalkan sepak pojok. Sementara itu, satu-satunya gol balasan Chelsea didapat melalui gol bunuh diri bek Arsenal, Piero Hincapie, yang juga berawal dari situasi serupa.
Keberhasilan ini sebenarnya semakin mempertegas status anak asuh Mikel Arteta sebagai raja bola mati di Liga Primer 2025/26. Sejauh ini, Arsenal tercatat telah mengoleksi 16 gol dari skema korner, jumlah tertinggi dibandingkan kontestan lainnya.
Sepanjang pertandingan, wasit tercatat memberikan total 15 kali tendangan sudut, Chelsea mendominasi dengan perolehan 10 kali korner. Namun, intensitas bola mati yang tinggi ini justru dianggap sebagai indikasi menurunnya kreativitas permainan terbuka.
Baca Juga: Victoria Beckham Bocorkan Aksesori Kunci Musim Semi 2026 Lewat Penampilan Elegan
Gullit secara terang-terangan mengecam pola permainan kedua tim yang dianggapnya terlalu bergantung pada bola mati untuk mencari gol. Ia merasa esensi keindahan sepak bola hilang karena kedua kesebelasan seolah hanya mengincar sepak pojok.
"Saya menonton pertandingan Arsenal-Chelsea. Pertandingan yang mengerikan. Benar-benar sampah, sangat mengerikan untuk ditonton," kata Gullit, dilansir dari media Belanda Voetbal Primeur.
Lebih lanjut, Gullit mengkhawatirkan jika gaya main pragmatis seperti ini akan menjadi standar baru di masa depan. Ia merindukan sosok pemain yang berani melakukan penetrasi individu untuk memecah kebuntuan lawan secara artistik.
Baca Juga: Setelah Cedera dan Insiden Teknis, Trae Young Akhirnya Tampil untuk Wizards
"Saya harap ini bukan tren, karena semua orang sebenarnya bugar akhir-akhir ini. Semua orang bisa berlari, tetapi kita sangat membutuhkan pemain yang bisa menaklukkan lawan," ucapnya.
Penilaian peraih Ballon d'Or 1987 tersebut, ketergantungan pada data dan analisis statistik di era modern telah merusak keseruan pertandingan. Ia melihat sepak bola kini dijalankan layaknya simulasi angka yang kaku dan membosankan.