SporlinkNews - Juventus meluapkan protes keras atas keputusan wasit Federico La Penna, yang mengeluarkan kartu merah untuk Pierre Kalulu saat menghadapi Inter Milan. Klub Turin menilai keputusan tersebut memalukan dan tidak adil.
Laga panas di Giuseppe Meazza, Minggu (15/2) dini hari WIB, berakhir dengan kemenangan tuan rumah 3-2 atas Juventus. Namun, momen yang paling menjadi sorotan adalah kartu merah Kalulu pada menit ke-42.
Bek asal Prancis itu diganjar kartu kuning kedua usai dianggap melakukan pelanggaran terhadap Alessandro Bastoni. Keputusan ini memaksa Juventus menuntaskan pertandingan dengan 10 pemain.
Baca Juga: Liverpool Sapu Bersih Brighton di Laga FA Cup, Aksi Dominik Szoboszlai Tuai Pujian
Kalulu sendiri sempat meminta wasit meninjau VAR. Namun prosedur peninjauan tidak bisa diterapkan untuk kartu kuning kedua.
Reaksi Juventus langsung terlihat. Video yang tersebar di media sosial memperlihatkan Direktur Klub Damien Comolli dan legenda Giorgio Chiellini marah kepada La Penna di lorong menuju ruang ganti saat pergantian babak.
Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, memilih bungkam ketika dimintai komentar usai pertandingan. Namun suara protes datang tegas dari manajemen klub.
Baca Juga: Pengakuan Palladino tentang Atalanta dan Ambisi Liga Primer
Juventus menilai kartu merah untuk Kalulu sebagai keputusan yang memalukan dan mencoreng reputasi pertandingan.
"Jelas sebagai klub kami merasa hari ini memalukan," ujar Manajer Umum Juventus, Damien Comolli, kepada Sky Sport Italia.
Comolli menambahkan bahwa ketidakadilan ini bukan pertama kali terjadi, dan membuat seluruh elemen klub merasa kecewa.
"Yang terjadi hari ini memalukan, dan kami sebagai klub, mulai dari pemilik, fans, para pemain, sampai pelatih, merasa ini tidak boleh terjadi lagi. Ini terjadi lagi dan lagi, lagi dan lagi, malam ini adalah rangkuman akan yang sudah kita lihat musim ini," jelas Comolli.
Baca Juga: Harry Kane Tembus 500 Gol, Bayern Munich Perlebar Jarak dengan Dortmund
Protes Juventus menekankan bahwa pertandingan berskala internasional seperti ini seharusnya dijalankan dengan keputusan yang adil dan transparan.