"Tapi saya butuh perasaan tertentu dengan motornya,” tambahnya.
Baca Juga: Tiga Modal Penting Persija untuk Kalahkan PSS Sleman di Maguwoharjo
Namun, yang justru memperparah situasi adalah sikap manajemen Ducati sendiri.
Manajer tim, Davide Tardozzi, menyatakan bahwa Desmosedici GP25 merupakan evolusi dari versi sebelumnya dan bahkan lebih baik.
Ia menilai Bagnaia belum mampu menyesuaikan diri dengan peningkatan performa motor.
Baca Juga: Tyrone del Pino Fokus ke Dua Laga Sisa, Ogah Komentar Soal Kariernya di Persib
“GP25 adalah evolusi kecil dari GP24. Menurut kami, motor ini lebih baik,” kata Tardozzi.
Ia menambahkan, “Tahun ini level keseluruhannya meningkat pesat. Pecco yang belum bisa mengimbanginya. Kami rindu Pecco yang dulu.”
Pernyataan tersebut dianggap sebagai bentuk berkurangnya respek manajemen Ducati terhadap Bagnaia, yang sejauh ini sudah memberikan dua gelar juara dunia kepada tim asal Italia tersebut.
Baca Juga: Gantikan Paul Munster, Uston Nawawi Diharapkan Bisa Bawa Kemenangan Bagi Persebaya
Seorang komentator MotoGP dari DAZN menyebut bahwa Bagnaia saat ini sedang berada pada titik terendah dalam kariernya.
Ia menyayangkan munculnya sinyal bahwa manajemen mulai kehilangan kepercayaan pada pembalap andalannya.
“Ini masa sulit untuk Pecco. Di Ducati, mereka mulai kehilangan sedikit rasa hormat padanya. Dan itu bisa memperburuk suasana di garasi,” ujarnya.
Hubungan internal di dalam tim Ducati pun dinilai sedang memasuki fase krusial.
Jika tekanan mental ini terus berlanjut, bukan tak mungkin keretakan hubungan antara pembalap dan manajemen akan memengaruhi performa tim secara keseluruhan.