SportlinkNews - Usai terpuruk di Grand Prix Inggris, pembalap Yamaha Fabio Quartararo bicara jujur dan blak-blakan tentang masa depannya di MotoGP.
Quartararo dilaporkan sebagai pembalap dengan bayaran tertinggi di grid dengan kontrak €12 juta (sekitar Rp223 miliar) per musim di Yamaha.
Kontrak tersebut berlaku hingga akhir tahun 2026, dan peningkatan terbaru Yamaha yang dirasakan sang pembalap mengisyaratkan alasan untuk optimis.
Baca Juga: Liga Primer Kirim Pelatih untuk Pengembangan Sepak Bola Akar Rumput di Singapura
Namun kepada Dazn, Quartararo mengatakan, "Saya sangat percaya pada proyek itu, tetapi saya tahu bahwa jika tidak berhasil, saya akan beralih ke proyek yang sudah siap."
Fabio Quartararo memang berhasil mempertahankan reputasinya sebagai salah satu pembalap MotoGP paling berbakat sejak memenangkan kejuaraan 2022 dengan Yamaha-nya.
Namun, tidak bisa dipungkiri, Ducati juga sukses melakukan terobosan dan telah mengambil alih kelas utama, sementara Yamaha terus mengalami penurunan performa.
Baca Juga: Sandy Walsh dan Eliano Reijnders Absen, Komposisi Pemain Timnas Indonesia Dirombak
Tapi pada tahun ini, dengan akuisisi tim Pramac yang menggandakan data dan pembalap mereka, Yamaha kembali tampil menjadi ancaman.
Terbukti dengan aksi brilian Quartararo yang telah mengklaim pole position sebanyak tiga kali berturut-turut berkat performa motornya yang mulai "membaik".
Quartararo pun mampu memberikan perlawanan kepada para pembalap Ducati di GP Inggris, hingga akhirnya mengalami kendala teknis yang membuatnya menepi dari lintasan.
Baca Juga: 4 Pemain Asing Hengkang dari Persib Bandung, David da Silva Belum Pasti Bertahan
Quartararo pun harus mundur dari balapan dimana dia berada di posisi paling depan sepanjang lap. Dia mundur dan menangis.
Namun proyek Yamaha memberinya alasan untuk percaya. "Berurusan dengan orang Jepang selalu baik, walau terkadang terlalu lambat. Namun mereka yang ada di sini juga sudah menjadi sedikit Eropa," katanya.