SportlinkNews - Merek-merek fashion kini memanfaatkan relevansi budaya dan komersial olahraga untuk membangun kemitraan strategis bersama atlet dan organisasinya. Pendekatan kolaboratif jangka panjang dengan para atlet jadi faktor utama dalam strategi pemasaran yang sukses.
Hal tersebut bisa dilihat saat Olimpiade dan Paralimpiade Paris kemarin. Di mana perhatian dunia tidak hanya tertuju pada para atlet andalan negaranya, tetapi juga para merek-merek besar fashion yang melekat pada baju kontingen hingga jersey tim atau pakaian bertanding.
Mulai dari Ralph Lauren yang membalut tim Amerika Serikat, Puma untuk tim Jamaika, ASICS untuk tim Australia, Lululemon untuk tim Canada, kolaborasi Stephane Ashpool X Le Coq Sportif untuk tim Prancis, hingga Berluti pun turut melengkapi penampilan para atlet .
Bahkan mereka besar LVMH menjadi sponsor utama dan mereka mendesign medali yang digunakan melalui label perhiasannya, Chaumet.
Dengan digunakan model para atlet ternama, mereka turut membantu pemasaran secara global dan tidak lagi menjadi bagian dari kemitraan ekslusif ini.
Mencerminkan tren baru di industri fashion, di mana olahraga menjadi arena penting bagi merek-merek besar untuk membangun koneksi dengan audiens global. Sehingga kini situasi di mana olahraga tidak banyak terjamah oleh dunia fashion tak lagi terjadi.
Perusahaan fashion pun langsung melihat peluang besar dalam industri olahraga ini. Berdasarkan proyeksi PwC, pasar sponsor olahraga diperkirakan tumbuh dari $63,1 miliar pada 2021 menjadi $109,1 miliar pada 2030.
Ini menunjukkan bila olahraga bisa jadi medium bernilai bagi merek-merek yang ingin terhubung dengan konsumen yang lebih luas lagi.
Bahkan salah satu pengamat olahraga di Inggris, Clive Reeves mengatakan untuk jadi perbincangan luas di masyarakat, para merek-merek besar harus hadir di setiap event olahraga.
Contohnya para bintang yang hadir menggunakan merek-mereka terkenal di gelaran pertandingan NBA atau pertandingan Grand Slam tenis.
Saat publik menonton pertandingan, maka mereka juga akan melihat dan menggerakan sejumlah orang untuk melakukan pembelian produk-produk ternama itu, hal itu yang kemudian berharga bagi sebuah merek.
Ini pun menjadi lapangan baru bagi merek fashion, di mana kesempatan mereka untuk masuk ke industri olahraga kini semakin luas.
Selain menempatkan logo mereka di kaus atau stadion, merek fashion juga mulai mengeksplorasi cara baru untuk meningkatkan eksposur seperti bermitra dengan para atlet dalam peluncuran lini pakaian eksklusif.
Misalnya, saat Gucci meluncurkan koleksi prefall 2024 lalu atau Bottega Venetta yang memperkenalkan produk tas baru mereka dengan menggunakan pemain naturalisasi Indonesia sebagai modelnya.
Rafael Struick, Justin Hubner dan Marselino Ferdinan menggunakan outfit dan aksesori serba Gucci. Mereka melakukan pemotretan untuk brand asal Italia dengan latar belakang Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta.
Agensi pemasaran The Mailroom bahkan memprediksi bila ini baru merupakan tahap awal untuk merek fashion melihat sejauh mana olahraga bisa membawa mereka ke level berikutnya.
Walaupun merek-merek massal olahraga seperti Nike, Adidas, dan Puma telah lama melakukan mengkoneksikan merek mereka dengan dunia fashion, tetapi ini tetap akan menjadi peluang baru bagi merek-merek fashion non-olahraga.
Studi kasus di Inggris menunjukkan bagaimana merek seperti Boss, Tag Heuer, dan The Edit Ldn sukses menjadikan pemasaran olahraga sebagai strategi utama dalam pertumbuhan bisnis mereka.
Lewat model tersebut, mereka tidak hanya memperkuat ikatan dengan konsumen lama, tetapi juga bisa menarik segman pasar lainnya yang lebih dinamis.
Artikel Terkait
Alex Frei Menukar Golnya dengan Bisnis Keju
Bisnis Lancar, Pendapatan Manchester City Tahun Ini Naik Menjadi Rp14,45 Triliun
Koleksi Kolaborasi 424 x Nike Tampilkan Gaya Unik di Paris Fashion Week 2025
Presiden Atalanta Antonio Percassi, Sang Petualang di Dunia Fashion dan Sepak Bola
Fiorentina dan Kappa Luncurkan Jersey Keempat Musim Ini, Perpaduan Heritage dan High Fashion