Dalam kata-katanya sendiri, Fofana menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Adidas adalah perpaduan dua dunia yang mencerminkan pertemuan budaya tradisional dan modern.
Baca Juga: Pergelaran Akbar Euro 2024 Didukung 16.000 Sukarelawan dari 124 Negara
Menurutnya, qamis selalu menjadi pakaian tradisional yang murni dan sederhana, biasanya terbuat dari katun putih.
Namun, selama perjalanannya di Afrika Barat, ia terinspirasi oleh cara orang-orang memodifikasi qamis menjadi lebih dari sekadar pakaian keagamaan, tetapi juga objek budaya.
Saat melihat "Manchester Qamis" di Grand Marché de Bamako, ia tergerak untuk membuat versi sendiri yang dijual di lingkungannya di Korofina dan memotret pemuda yang memakainya.
Baca Juga: Adidas Rilis Jersey Kandang Ajax 2024-2025 dengan Sentuhan Tradisional dan Klasik
Proyek ini sukses besar di tingkat lokal dan di dunia seni.
Ketika Adidas menghubunginya untuk mengadakan lokakarya, Fofana sangat antusias untuk membawa proyeknya ke tingkat berikutnya.
Dia bertemu dengan desainer dari salah satu merek olahraga terbesar untuk merealisasikan visinya.
Baca Juga: Aice Group Beri Dukungan Penuh untuk Tim Indonesia di Olimpiade Paris 2024
Qamis yang dikembangkan memiliki karakteristik tertentu: cepat kering, mudah bergerak, dan tahan kusut.
Fofana juga memimpin inisiatif ini dari awal hingga akhir, termasuk mengarahkan dan memotret gambar-gambar tersebut di Guinea.
Proyek ini bukan hanya tentang sepak bola atau qamis tradisional, tetapi juga tentang menciptakan objek hibrida yang mencerminkan kebiasaan budaya di Mali.
Meskipun konteks politik di Prancis penuh dengan isu rasisme dan islamofobia, Fofana mencoba untuk tidak membiarkan hal tersebut mendefinisikan karyanya.