SportlinkNews - Laju impresif Barcelona di kandang sendiri akhirnya terhenti setelah dipaksa menyerah dua gol tanpa balas oleh Atletico Madrid pada leg pertama perempat final Liga Champions. Hasil minor di hadapan publik sendiri ini menempatkan skuad asuhan Hansi Flick dalam situasi yang sangat terjepit untuk bisa melangkah ke fase berikutnya.
Kekalahan ini terasa sangat menyesakkan karena Barcelona kini memikul beban berat untuk mencetak selisih tiga gol pada laga tandang di Madrid. Statistik menunjukkan bahwa hasil ini merusak rekor sempurna 14 kemenangan beruntun yang sebelumnya mereka catatkan sejak kembali merumput di Stadion Camp Nou.
Bagi Hansi Flick pribadi, hasil pertandingan Kamis dini hari tersebut menorehkan catatan kelam yang tidak pernah ia alami sepanjang karier kepelatihannya. Ini merupakan kali pertama dalam 18 laga fase gugur Liga Champions di mana tim yang ia asuh gagal menceploskan satu gol pun ke gawang lawan.
Baca Juga: Mantan Pemain Piala Dunia Ditangkap Polisi karena Perampokan Bersenjata
Padahal dalam 17 partai sebelumnya, termasuk saat masih menukangi Bayern Munchen, armada Flick selalu dikenal tajam dan minimal mampu mencetak satu gol. Momentum pertandingan mulai berbalik secara drastis bagi tuan rumah sesaat sebelum interval babak pertama berakhir di tengah sorakan suporter.
Pau Cubarsi harus meninggalkan lapangan lebih cepat pada menit ke-44 setelah menerima kartu merah langsung yang memicu perdebatan sengit di pinggir lapangan. Keputusan wasit Istvan Kovacs tersebut diambil setelah melakukan tinjauan VAR terhadap insiden pelanggaran profesional yang melibatkan penyerang Atletico, Giuliano Simeone.
Awalnya pengadil hanya menghadiahi kartu kuning untuk bek muda tersebut, namun status hukuman berubah menjadi pengusiran permanen setelah intervensi teknologi video. Petaka berlanjut bagi Blaugrana ketika tim tamu berhasil memecah kebuntuan melalui eksekusi tendangan bebas akurat yang dilepaskan oleh Julian Alvarez.
Baca Juga: Catat Kinerja Gemilang Sepanjang Super League, Bojan Hodak akan Bertahan atau Tinggalkan Persib?
Pasca pertandingan, Hansi Flick secara terbuka mengekspresikan kekecewaannya terhadap kinerja perangkat pertandingan yang dianggap merugikan perjuangan timnya di lapangan. Ia mempertanyakan validitas kartu merah Cubarsi karena merasa kontak yang terjadi tidaklah sejelas apa yang diputuskan oleh wasit melalui layar monitor.
“Saya tidak tahu soal pengusiran Cubarsi. Itu bisa jadi kartu merah, bisa juga bukan. Saya tidak yakin dia menyentuh Giuliano Simeone. Bola juga berada di belakangnya,” ujar Flick dikutip dari Marca.
Pelatih asal Jerman tersebut merasa bahwa timnya tidak mendapatkan keadilan yang sama ketika terjadi insiden krusial di area terlarang milik Los Rojiblancos. Flick menyoroti momen saat pemain Atletico, Marc Pubill, dianggap menyentuh bola dengan tangan di kotak penalti namun luput dari pemeriksaan mendalam.
Baca Juga: Hadapi Bali United FC, Ramon Tanque Waspadai Tren Positif Serdadau Tridatu
Kurangnya respons dari ruang kontrol VAR terhadap kejadian tersebut membuat Flick meradang dan mempertanyakan efektivitas penggunaan teknologi dalam laga sebesar ini. Ia menilai keputusan yang tidak konsisten telah merusak integritas pertandingan dan mengubah hasil akhir yang seharusnya didapatkan oleh kedua tim.
“Saya heran mengapa VAR tidak melakukan intervensi? Semua orang membuat kesalahan, tapi apa gunanya VAR? Saya tidak paham. Itu harusnya penalti, kartu kuning kedua, dan kartu merah. Sungguh tidak dapat diterima!” tegas Flick.
Artikel Terkait
Flick Minta Barcelona Lupakan Kemenangan atas Atletico Madrid
FIFA dan Otoritas Barcelona Buru Pelaku Rasisme di Laga Spanyol vs Mesir
Barcelona vs Atletico di Liga Champions: Ujian Berat Blaugrana, Taktik Baru Simeone Jadi Ancaman
Atletico Madrid Tumbangkan 10 Pemain Barcelona di Kandang
Suporter Atletico Madrid Melantunkan Nyanyian Islamofobia Jelang Pertandingan Melawan Barcelona