SportlinkNews - Setelah penantian panjang selama 12 tahun, Timnas Algeria (Aljazair) akhirnya kembali ke panggung terbesar sepak bola dunia.
The Desert Foxes memastikan tempat di Piala Dunia 2026 dan datang membawa misi besar, yakni mengembalikan prestise sepak bola Algeria sekaligus melampaui pencapaian bersejarah mereka di Brasil 2014.
Algeria bukan nama asing di Piala Dunia. Negara Afrika Utara tersebut telah tampil dalam lima edisi turnamen terbesar FIFA, yakni pada 1982, 1986, 2010, 2014, dan kini 2026. Mereka juga memiliki dua gelar Piala Afrika yang diraih pada 1990 dan 2019.
Namun, perjalanan Algeria di Piala Dunia selalu menyimpan cerita tersendiri. Pada 1982, mereka mengejutkan dunia dengan mengalahkan Jerman Barat dalam salah satu kejutan terbesar sepanjang sejarah turnamen.
Baca Juga: Soroti Masa Transisi Real Madrid, Clarence Seedorf Minta Publik Bersabar Hadapi Paceklik Trofi
Sayangnya, kontroversi yang dikenal sebagai "Disgrace of Gijon" membuat langkah mereka terhenti secara menyakitkan.
Prestasi terbaik Algeria datang pada Piala Dunia 2014 di Brasil.
Saat itu mereka berhasil lolos ke babak 16 besar dan memaksa Jerman bermain hingga perpanjangan waktu sebelum akhirnya menyerah 1-2. Jerman kemudian melangkah hingga menjadi juara dunia.
Kini, generasi baru Aljazair memiliki kesempatan untuk menciptakan sejarah baru.
Baca Juga: Coret Lennart Karl Akibat Cedera, Julian Nagelsmann Puji Bakat Assan Ouedraogo
Skuad asuhan Vladimir Petkovic datang ke Amerika Utara dengan perpaduan pengalaman dan energi muda.
Nama besar seperti Riyad Mahrez masih menjadi pemimpin tim, sementara Amine Gouiri, Mohamed Amoura, Rayan Ait-Nouri, hingga Nabil Bentaleb menjadi tulang punggung generasi baru Desert Foxes.
Bagi Mahrez, Piala Dunia 2026 kemungkinan menjadi kesempatan terakhir untuk bersinar di level tertinggi bersama tim nasional.
Mantan pemain Manchester City tersebut masih menjadi figur sentral dalam permainan Aljazair berkat kreativitas, visi, dan pengalaman yang dimilikinya.
Baca Juga: Pelatih Oman Sebut Peringkat FIFA Timnas Indonesia Tidak Sesuai Kualitas Asli
Petkovic berhasil membentuk tim yang lebih seimbang dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Aljazair kini tidak hanya mengandalkan kualitas individu, tetapi juga memiliki struktur permainan yang lebih matang, mampu menguasai bola sekaligus melakukan transisi cepat saat menyerang.
Kembalinya Aljazair ke Piala Dunia juga menjadi bentuk kebangkitan setelah kegagalan lolos ke edisi 2018 dan 2022.
Absennya mereka dalam dua turnamen berturut-turut sempat dianggap sebagai kemunduran besar bagi salah satu kekuatan utama sepak bola Afrika.
Baca Juga: FIFA Akhirnya Izinkan Penonton Bawa Botol Plastik di Piala Dunia 2026
Dalam kualifikasi zona Afrika, Aljazair menunjukkan respons yang meyakinkan. Mereka memuncaki grup dengan dominan dan hanya mengalami satu kekalahan sepanjang perjalanan menuju Piala Dunia 2026.
Bek senior Aissa Mandi, yang juga merupakan bagian dari skuad Piala Dunia 2014, menyebut turnamen ini sebagai kesempatan emas bagi generasi sekarang untuk meninggalkan warisan mereka sendiri.
Menurut Mandi, pengalaman menghadapi Jerman pada 2014 membuktikan bahwa Aljazair mampu bersaing dengan tim-tim elite dunia. Kini ia berharap generasi baru dapat melangkah lebih jauh dan menulis sejarah yang lebih besar.
Pada Piala Dunia edisi kali ini Perjalanan Algeria tidak akan mudah. Mereka akan menemui tantangan berat di Grup J bersama juara bertahan Argentina, Austria, dan debutan Yordania.
Baca Juga: Ganggu Fokus Piala Dunia 2026, Thomas Tuchel Desak Pemain Inggris Segera Tuntaskan Transfer
Argentina jelas menjadi ujian terbesar di fase grup. Namun Algeria memiliki pengalaman menghadapi lawan-lawan kuat dan diyakini mampu memberikan perlawanan sengit.
Austria juga menjadi lawan yang tidak bisa diremehkan, sementara Yordania berpotensi menjadi kuda hitam yang siap membuat kejutan.
Dengan kombinasi pemain berpengalaman Eropa dan talenta muda yang sedang berkembang, Aljazair percaya mereka mampu mengulangi bahkan melampaui pencapaian generasi 2014.
Empat puluh empat tahun setelah kisah heroik mereka di Spanyol 1982 dan 12 tahun setelah petualangan mengesankan di Brasil 2014, Aljazair kembali ke Piala Dunia bukan sekadar sebagai peserta.
Baca Juga: Curry Buka Babak Baru, Li-Ning Jadi Kendaraan Menuju Imperium Global
Artikel Terkait
Malaysia Ingin Naturalisasi Pemain Juara Piala Dunia
Grup B Piala Dunia 2026: Kanada Mencoba Peruntungan Baru sebagai Tuan Rumah
Tatap Piala Dunia 2026, Graham Arnold Minta Timnas Irak Tampil Tanpa Rasa Takut
Ukir Rekor Enam Edisi Piala Dunia, Messi, Ronaldo, dan Ochoa Kenakan Atribut Istimewa
Ganggu Fokus Piala Dunia 2026, Thomas Tuchel Desak Pemain Inggris Segera Tuntaskan Transfer