SportlinkNews - Performa buruk Brisbane Roar pada musim 2024-2025 memicu pertanyaan tajam dari publik Australia terhadap komitmen Grup Bakrie sebagai pemilik klub.
Klub yang bermarkas di Brisbane ini kembali mencatat hasil mengecewakan dengan menempati posisi ke-12 dari 13 tim di klasemen akhir A-League, hanya meraih 21 poin dari 26 pertandingan.
Beruntung bagi Brisbane Roar, sistem kompetisi A-League tidak mengenal degradasi, sehingga posisi tersebut tidak membuat mereka turun kasta.
Meski demikian, hasil ini memperpanjang tren negatif klub yang sudah empat musim berturut-turut gagal menembus papan atas.
Dua di antaranya bahkan berakhir di posisi dua terbawah.
Situasi ini kontras dengan masa kejayaan mereka satu dekade silam, saat menjuarai A-League pada 2011, 2012, dan 2014.
Baca Juga: PSS Sleman Cetak Sejarah Baru Lolos Verifikasi AFC Club Licensing
Salah satu momen paling ikonik adalah saat Brisbane Roar merebut gelar pertama di bawah arahan Ange Postecoglou, yang kemudian menjadi pelatih sukses bersama tim nasional Australia dan klub-klub besar.
Musim ini, Grup Bakrie mencoba pendekatan baru dengan menghadirkan pemain asal Indonesia, Rafael Struick, untuk memperkuat lini depan.
Struick yang sebelumnya bermain di Belanda bersama ADO Den Haag datang ke Australia dengan harapan mendapat lebih banyak menit bermain. Namun, kenyataan berkata lain.
Baca Juga: Persebaya Lolos Lisensi Klub AFC, Bersiap Mengarungi Pentas Kompetisi di Asia
Penyerang berusia muda tersebut hanya tampil dalam 10 laga sepanjang musim dengan total waktu bermain 239 menit dan menyumbang satu gol.
Dalam tujuh pertandingan terakhir, namanya bahkan tak lagi masuk dalam daftar pemain yang dibawa oleh pelatih saat itu, Ruben Zadkovich.