SportlinkNews - Penggemar sepak bola China belum bisa move on dari kekelahan melawan Timnas Indonesia. Tiga hari telah berlalu, pelatih Branko Ivankovic tak henti dihujani kritik.
Kekalahan 1-0 dari timnas Indonesia memang menyesakan. Tim The Dragons tenggelam di dasar klasemen Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026.
China finis terakhir di babak ketiga kualifikasi Asia untuk ketiga kalinya sejak 1998. Sedangkan Timnas Indonesia lolos ke babak keempat yang merupakan sejarah bagi negara Asia Tenggara.
Baca Juga: Cerita Penuh Makna Tifo Battle With Honour di Laga Timnas Indonesia vs China
Media sentral China juga tidak menahan diri dan mengkritik pelatih Ivankovic. Mereka menunjukkan bahwa sikapnya bukanlah masalah, tetapi bahwa ia belum mencapai apa pun."
China kalah 0-1 dalam pertandingan tandang ke-9 Grup C babak ketiga kualifikasi Piala Dunia Amerika Utara & Tengah 2026 melawan Indonesia yang diadakan di Stadion Gelora Bung Karno di Jakarta, pada 5 Juni 2025.
Itu adalah penampilan yang buruk. Hanya dengan satu tembakan efektif, China tidak menunjukkan tanda-tanda kekuatan saat melawan Indonesia, dan dengan kekalahan ini, mereka tetap berada di dasar klasemen Grup C.
Baca Juga: Media China Kritik Taktik Branko Ivankovic, Pelatih Timnas Indonesia Dibuat Bingung
Dengan kemenangan Arab Saudi atas Bahrain untuk naik ke posisi ketiga (13 poin), harapan China untuk lolos ke Piala Dunia benar-benar sirna.
Pada menit ke-45 babak pertama, China melakukan pelanggaran saat menghalangi Ricky Kambuaya yang agresif menembus kotak penalti.
Wasit menghadiahkan tendangan penalti setelah mengoperasikan video asisten wasit (VAR) di lapangan.
Ole Romeny mencetak gol pertama ke arah sudut kanan, berlawanan arah dengan arah kiper. China pun kalah, gagal mengejar ketertinggalan satu gol.
Baca Juga: Pelatih Baru Timnas Putri U-19 Indonesia Akira Higashiyama Lapar Kemenangan
Piala Dunia ini merupakan turnamen yang mempertemukan negara-negara yang berhasil melaju ke putaran final.
Ini merupakan Piala Dunia pertama yang mempertemukan negara-negara yang jumlah pesertanya bertambah dari 32 menjadi 48.