SportlinkNews - Ada sepenggal kisah menarik dari perjalanan Fluminense FC menuju babak perempat final Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 yang membawa klub Brasil tersebut berhadapan dengan wakil Arab Saudi, Al Hilal.
Saat Fluminense unggul 1-0 atas Inter Milan di babak 16 besar, memanfaatkan jeda pendinginan di babak kedua, bek tengah Thiago Silva menyarankan kepada pelatihnya untuk beralih ke formasi 5-4-1 dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia juga menyarankan untuk menempatkan penyerang Everaldo di sayap dan Jhon Arias, seorang playmaker, di depan. Renato Gaucho, sang pelatih akhirnya menyetujui usulan itu.
Baca Juga: Jadwal Lengkap dan Siaran Langsung Babak Perempat Final Piala Dunia Antarklub FIFA 2025
Hasilnya, Fluminense berhasil menambah gol keduanya ke gawang Inter Milan dan meluncur ke perempat final Piala Dunia Antarklub. Fluminense meraih salah satu hasil terbaik dalam sejarah 123 tahun klub mereka.
Pemain yang pernah merasa frustasi lantaran pernah dirawat berbulan-bulan karena sakit menjelaskan kalau dirinya merasakan keterbukaan yang dimiliki sang pelatihnya Renato Gaucho.
Itulah sebabnya, dia berani mengusulkan perubahan taktik saat Fluminense menghadapi Inter Milan.
Baca Juga: Olahraga Italia yang Kurang Dikenal Ini Menginspirasi Sepak Bola Amerika Modern
"Renato adalah orang yang sangat terbuka. Saya sudah lama menjalin hubungan baik dengannya. Sejak saya di Fluminense pada tahun 2007, 2008."
"Saya dipanggil ke tim nasional Brasil untuk pertama kalinya di bawah asuhan Renato. Dia telah memberi saya banyak nasihat selama bertahun-tahun, dan sejak saya kembali ke Fluminense."
"Kami memiliki hubungan yang baik. Pertukaran pendapat saya dengannya penting. Saya pikir wajar dalam sepak bola bagi pelatih untuk bersikap terbuka dengan kaptennya. Atau dengan pemain lain, terlepas dari apakah dia kaptennya."
Baca Juga: Lima Aksi Yassine Bounou Kiper Al Hilal yang Bikin Spanyol dan Manchester City Menderita
"Renato sangat terbuka dengan saya. Saya mencoba membantu dengan cara sebaik mungkin, memberikan nasihat saya. Itulah cara saya melakukan sesuatu."
"Sisi rendah hati Renato memungkinkan hal ini terjadi. Tidak semua pelatih memiliki kerendahan hati untuk memahami apa yang dirasakan pemain," jelas Thiago Silva.