“Chelsea milik Abramovich, Chelsea saya, Chelsea yang kami bangun, adalah klub yang selalu menang,” ujar Mourinho, dikutip dari Metro.
“Mereka selalu menang bersama saya, lalu Ancelotti, Conte, hingga Tuchel. Chelsea adalah mesin pemenang."
"Tapi kemudian ada perubahan besar dengan investasi gila-gilaan, terlalu banyak pemain, terlalu banyak uang, dan tim tanpa filosofi jelas. Itu sulit bagi siapa pun yang mencintai klub.”
Ujian Mourinho kali ini dipastikan tidak mudah.
Baca Juga: Malaysia Resmi Banding Usai Dihukum FIFA
Pada laga perdana fase liga, Benfica kalah 2-3 dari Qarabag, hasil yang bahkan membuat Bruno Lage kehilangan jabatannya.
Sementara Chelsea juga tengah terpuruk dengan rentetan hasil buruk.
Dalam empat laga terakhir di semua kompetisi, The Blues selalu gagal menang.
Baca Juga: Jaring Laba-laba Kembali Saat Nike x Cultura FC Meluncurkan Seragam Budaya Pertama
Mereka takluk 1-3 dari Bayern Muenchen pada partai pembuka Liga Champions, lalu kalah 1-2 dari Manchester United, serta ditekuk Brighton 1-3 di Liga Inggris.
Meski begitu, Chelsea punya rekor bagus melawan Benfica.
Terakhir kali keduanya bertemu pada perempat final Liga Champions 2011-2012, The Blues menang 2-1 di Stamford Bridge dan melaju ke semifinal berkat agregat 3-1.
Baca Juga: Persib Hadapi Bangkok United, Andrew Jung: Tidak Gampang Tapi Patok 3 Poin
Kembalinya Mourinho ke Stamford Bridge kali ini bukan hanya tentang pertandingan, tetapi juga kisah emosional seorang legenda yang kini datang sebagai lawan, sekaligus kritik tajam terhadap kondisi Chelsea pasca-Abramovich.