SportlinkNews — FIFA sedang dipusingkan menjelang sepak mula Piala Dunia 2026 yang bergulir lebih kurang tiga bulan lagi. Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah memicu ancaman penarikan diri Iran dari ajang prestisius tersebut.
Krisis ini berakar dari eskalasi militer setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran beberapa pekan lalu. Kemudian dibalas oleh Iran dengan menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Situasi ini menempatkan Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) dalam posisi sulit. Hal ini karena Team Melli tergabung di Grup G yang seluruh laganya dimainkan di wilayah Amerika Serikat.
Baca Juga: Getafe Vs Real Betis Memanas, Penggemar Berkelahi di Tribun
Menanggapi ketidakpastian ini, Kepala Operasional Piala Dunia FIFA, Heimo Schirgi, menegaskan pihaknya sedang melakukan pengawasan ketat terhadap dinamika yang terjadi. Ia mengklaim terus menjalin koordinasi dengan berbagai pihak demi mencari jalan keluar terbaik agar Iran tidak batal berpartisipasi.
"Situasinya berubah dari hari ke hari, dan kami memantaunya dengan cermat. Kami bekerja sama dengan semua mitra federal dan internasional dalam mengevaluasi situasi, dan pada suatu saat kami akan memiliki solusi," kata Schirgi, dikutip dari Daily Mail.
Meskipun komunikasi intensif terus dilakukan dengan jajaran pengurus FFIRI, Schirgi memilih untuk tetap merahasiakan detail pembicaraan tersebut. Fokus utama otoritas sepak bola dunia saat ini adalah menjamin keberlangsungan Piala Dunia 2026 agar tetap berjalan sesuai jadwal yang telah disusun.
Baca Juga: Jake Paul Kagetkan Tunangannya dengan Bentley G Wagon
Di tengah bayang-bayang konflik bersenjata, FIFA berupaya mempromosikan sepak bola sebagai medium perdamaian. Berkaca pada kesuksesan di Rusia dan Qatar, Schirgi meyakini atmosfer Piala Dunia memiliki kekuatan untuk meredam tensi politik internasional.
"Mengingat kondisi dunia saat ini, akan jadi kesempatan besar untuk menyatukan semua orang. Bagi Anda yang belum pernah menyaksikan Piala Dunia, ajang ini sangat istimewa karena benar-benar mendunia dan menyatukan semua orang. Kita menyaksikannya di Qatar, di Rusia, di mana-mana. Orang-orang kagum betapa internasionalnya acara ini," ucapnya.
Namun, urusan Iran bukan satu-satunya kerikil tajam bagi FIFA. Penyelenggara juga harus memikirkan jaminan keamanan di Meksiko menyusul tewasnya pemimpin kartel CJNG, Nemesio Oseguera Cervantes, yang memicu gelombang kekhawatiran dari negara-negara peserta mengenai keselamatan skuat mereka selama di sana.
Baca Juga: Xavi Ungkap Laporta Akan Tendang Messi Jika Kembali ke Barcelona
Terlepas dari berbagai kendala yang mengepung, FIFA menyatakan tidak akan mengubah jadwal atau lokasi pertandingan. Organisasi pimpinan Gianni Infantino tersebut menaruh kepercayaan penuh kepada komitmen negara tuan rumah dalam menstabilkan situasi keamanan demi kelancaran turnamen.
Langkah diplomasi sepak bola kini menjadi tumpuan terakhir untuk memastikan Iran tetap berangkat ke Amerika Serikat. FIFA berharap ketegangan politik tidak sampai mengubur impian para pemain Iran untuk berkompetisi di panggung tertinggi sepak bola dunia.