internasional

Grup I Piala Dunia 2026: Empat Dekade Menunggu, Irak Datang Membawa Mimpi Baru

Senin, 1 Juni 2026 | 23:58 WIB
Aksi Frans Putros saat membela Irak menghadapi Andorra beberapa waktu lalu. (IG @iraqnt_en)

SportlinkNews - Bagi sebagian negara, lolos ke Piala Dunia merupakan target yang rutin dicapai setiap empat tahun. Namun bagi Irak, tiket menuju Piala Dunia 2026 memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar keberhasilan olahraga.

Ini adalah akhir dari penantian panjang selama 40 tahun sekaligus simbol kebangkitan sebuah bangsa yang berkali-kali diuji oleh sejarah.

Ketika peluit akhir berbunyi dalam laga playoff yang memastikan langkah Irak ke putaran final Piala Dunia 2026, yang dirayakan bukan hanya kemenangan sebuah tim sepak bola.

Dari Baghdad hingga Basra, ribuan suporter turun ke jalan mengibarkan bendera dan bernyanyi merayakan momen yang telah lama dinantikan.

Baca Juga: Tanggapi Kritik Publik, Kimmich Tegaskan Manuel Neuer Layak Masuk Skuad Jerman

Yang terasa bukan sekadar euforia kemenangan, melainkan perpaduan rasa lega, bangga, dan harapan yang selama puluhan tahun seakan terpendam sebelum akhirnya menemukan jalannya untuk kembali bergema di seluruh negeri.

Untuk pertama kalinya sejak tampil di Piala Dunia 1986 di Meksiko, Singa Mesopotamia kembali berdiri di panggung terbesar sepak bola dunia.

Empat dekade setelah penampilan bersejarah tersebut, generasi baru Irak akhirnya memiliki kesempatan untuk menulis kisah mereka sendiri.

Bagi sepak bola Irak, Meksiko selalu memiliki tempat khusus dalam sejarah. Di negara itulah mereka pertama kali merasakan atmosfer Piala Dunia.

Baca Juga: Allano Lima Umumkan Perpisahan dengan Persija Jakarta

Pada 1986, Irak datang sebagai pendatang baru yang penuh semangat. Mereka memang gagal melewati fase grup setelah kalah dari Belgia, Paraguay, dan tuan rumah Meksiko.

Namun ketiga kekalahan itu terjadi hanya dengan selisih satu gol, menunjukkan bahwa Irak mampu bersaing dengan tim-tim yang lebih mapan.

Dari turnamen itu lahir nama-nama legendaris seperti Ahmed Radhi dan Hussein Saeed, sosok yang kemudian dikenang sebagai generasi emas sepak bola Irak.

Sayangnya, setelah petualangan di Meksiko berakhir, tidak ada yang menyangka bahwa perjalanan menuju Piala Dunia berikutnya akan memakan waktu hingga empat dekade.

Baca Juga: Timnas Indonesia Mulai Piala AFF U-19 dengan Kemenangan Telak Lawan Myanmar

Selama periode tersebut, Irak berkali-kali mendekati impian mereka. Mereka mampu tampil kompetitif di level Asia, bahkan mencatat salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah sepak bola nasional dengan menjuarai Piala Asia 2007.

Talenta-talenta baru terus bermunculan, tetapi setiap upaya menuju Piala Dunia selalu berujung kekecewaan.

Kini, kisah itu akhirnya berubah.

Perjalanan menuju Amerika Utara tidak diraih dengan mudah. Berbeda dengan sejumlah negara besar yang mampu mengamankan tiket melalui jalur yang relatif nyaman, Irak harus menempuh jalan panjang dan berliku.

Baca Juga: Sempat Diganggu Cedera Kaki, Daniel Marthin Pastikan Siap Tempur di Indonesia Open 2026

Mereka memainkan lebih dari 20 pertandingan sepanjang proses kualifikasi. Setelah gagal merebut tiket otomatis pada putaran utama, Irak terpaksa melanjutkan perjuangan melalui jalur playoff yang penuh tekanan.

Pada fase inilah mentalitas tim benar-benar diuji. Setiap pertandingan terasa seperti final. Satu kesalahan kecil bisa menghapus mimpi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Namun justru dalam situasi seperti itu karakter Irak terlihat. Mereka menunjukkan ketangguhan, disiplin, dan organisasi permainan yang menjadi identitas sepanjang kualifikasi.

Halaman:

Tags

Terkini

Pemain LALIGA Dominasi Final Piala Dunia 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:37 WIB

Final Piala Dunia 2026: Saatnya Spanyol...?

Jumat, 17 Juli 2026 | 11:00 WIB