SportlinkNews - Nama Prancis hampir selalu masuk dalam daftar favorit setiap kali Piala Dunia digelar. Hal yang sama kembali terjadi menjelang Piala Dunia FIFA 2026.
Berstatus runner-up edisi 2022 sekaligus juara dunia 2018, Les Bleus datang ke Amerika Utara dengan ambisi besar mengakhiri turnamen sebagai kampiun dan menambah koleksi bintang ketiga di jersey mereka.
Status tersebut bukan tanpa alasan. Prancis saat ini menempati peringkat teratas dunia dan memiliki salah satu skuad terdalam di sepak bola internasional.
Di setiap lini, Didier Deschamps dibekali pemain-pemain elite yang rutin tampil di level tertinggi Eropa.
Baca Juga: Timnas Indonesia Semakin Mendunia, Kemenpora Sambut Positif Kolaborasi PSSI dan EA Sports FC
Namun, Piala Dunia 2026 bukan sekadar misi memburu gelar bagi Prancis. Turnamen yang berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli itu juga menjadi panggung perpisahan bagi Deschamps, sosok yang telah membentuk era emas Les Bleus selama lebih dari satu dekade.
Deschamps sudah memastikan akan mengakhiri masa baktinya sebagai pelatih tim nasional Prancis setelah Piala Dunia 2026.
Keputusan itu membuat turnamen di Amerika Utara menjadi kesempatan terakhir bagi pelatih berusia 57 tahun tersebut untuk menambah warisan prestasinya.
Selama menangani Prancis sejak 2012, Deschamps sukses mengantar timnya meraih gelar Piala Dunia 2018, runner-up Euro 2016, juara UEFA Nations League 2021, dan runner-up Piala Dunia 2022.
Ia juga masuk dalam kelompok eksklusif yang mampu menjuarai Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih.
Sebagai pemain, Deschamps menjadi kapten ketika Prancis meraih gelar pertama pada 1998. Dua dekade kemudian, ia kembali mengangkat trofi yang sama sebagai pelatih setelah Les Bleus mengalahkan Kroasia 4-2 di final Rusia 2018.
Kini, target terakhirnya adalah menutup perjalanan bersama tim nasional dengan trofi terbesar di dunia.
Perjalanan Les Bleus menuju Amerika Utara berjalan mulus. Prancis tampil dominan sepanjang babak kualifikasi zona Eropa. Mereka memuncaki Grup D UEFA tanpa mengalami kekalahan dan memastikan tiket otomatis ke putaran final.
Baca Juga: PSG Kicep, Real Madrid Masih Jadi Juara Liga Champions Back to Back Sepanjang Masa
Les Bleus mengakhiri fase kualifikasi dengan catatan tujuh kemenangan dan satu hasil imbang dari delapan pertandingan.
Mereka mencetak 22 gol dan hanya kebobolan lima kali, menunjukkan keseimbangan antara produktivitas serangan dan soliditas pertahanan.
Kemenangan telak atas Ukraina menjadi salah satu penampilan terbaik mereka selama kualifikasi.
Bahkan ketika sempat ditahan Islandia 2-2, Prancis tetap mampu menjaga konsistensi dan menyelesaikan kampanye dengan nyaman di puncak klasemen.
Statistik tersebut semakin mempertegas status mereka sebagai salah satu kandidat utama juara.
Baca Juga: Deretan Pelatih yang Sukses Meraih Gelar Juara Liga Champions, Luis Enrique Catat Rekor Baru
Gaya bermain Prancis
Gaya bermain Timnas Prancis selama era Didier Deschamps identik dengan pendekatan pragmatis yang mengutamakan efektivitas.
Les Bleus tidak selalu berusaha mendominasi penguasaan bola, tetapi lebih fokus menjaga keseimbangan tim, disiplin bertahan, serta memaksimalkan peluang yang muncul melalui transisi cepat.
Dengan dukungan pemain-pemain bertalenta tinggi, Prancis mampu mengubah situasi bertahan menjadi serangan berbahaya hanya dalam hitungan detik.
Salah satu ciri utama permainan mereka adalah pertahanan blok rendah yang sangat terorganisasi. Prancis kerap membiarkan lawan lebih banyak menguasai bola, namun tetap menjaga jarak antarlini dengan rapat sehingga sulit ditembus.
Baca Juga: PSG Menang, Luis Enrique Angkat Trofi Liga Champions untuk Ketiga Kalinya
Kesabaran dalam bertahan ini menjadi fondasi yang memungkinkan mereka menunggu momen yang tepat untuk menyerang.
Ketika berhasil merebut bola, Les Bleus langsung mengandalkan transisi kilat. Kecepatan para pemain sayap dan penyerang dimanfaatkan untuk melancarkan serangan balik yang efektif, bahkan dengan jumlah pemain yang relatif sedikit.
Artikel Terkait
Peringkat Pencetak Gol Terbanyak Piala Dunia: Messi di 5 Besar, Ronaldo Gagal Masuk 25 Besar
Grup D Piala Dunia 2026: Turki Bertekad Merebut Kembali Kejayaan
Jadi Tim Senior di Grup A, Meksiko Bidik Final Piala Dunia 2026
Jelang Piala Dunia 2026, Kelayakan Kylian Mbappe sebagai Kapten Prancis Dipertanyakan
Neymar di Antara 3 Wanita, Dilema Jelang Piala Dunia 2026