Pada konferensi pers perdananya, Alfaro mengatakan, “Saya ingin Paraguay menjadi tim yang tidak ingin dihadapi oleh siapa pun, yang berjuang lebih keras dari siapa pun, dan semangatnya tidak pernah goyah.”
Pada debut Gustavo Alfaro ia memimpin timnya meraih hasil imbang tanpa gol yang sengit melawan Uruguay di Estadio Centenario, Montevideo.
Ia kemudian memimpin 12 dari 12 pertandingan kualifikasi Amerika Selatan, dengan satu kekalahan tipis 1-0 dari Brasil di Sao Paulo.
Baca Juga: Logistik Timnas Inggris Dibobol Pencuri, Dua Pelaku Ditangkap
Meskipun pelatih tersebut senang berhasil lolos, ia menekankan bahwa ambisinya lebih jauh, berjanji bahwa timnya tidak akan pergi ke Amerika hanya untuk mengisi kuota.
Tujuannya adalah untuk bertarung, bersaing, dan memperpanjang perjalanan mereka di turnamen selama mungkin.
Alfaro memiliki kredensial kepelatihan yang solid: sejak 1992, ia telah melatih dua belas klub dan juga pernah menjabat sebagai pelatih timnas Ekuador dan Kosta Rika.
Baca Juga: Luka Modric Siap Pensiun Setelah Piala Dunia 2026 Kelar
Dalam waktu kurang dari setahun, ia berhasil membalikkan nasib Paraguay dan memberikan alasan bagi para pendukung untuk merayakan kembalinya tim ke ajang Piala Dunia.
Gaya Permainan
Gustavo Alfaro kerap menggunakan formasi 4-2-3-1 yang dinamis atau 4-4-2 yang lebih rapat saat bertahan. Paraguay dikenal sebagai tim yang sangat terorganisasi dan mengandalkan efisiensi tinggi.
Baca Juga: Roma Resmi Menunjuk Tony D’Amico sebagai Direktur Olahraga yang Baru
Mereka juga memiliki pertahanan yang kokoh. Sepanjang babak kualifikasi Conmebol, mereka terkenal sangat pelit kebobolan (hanya kebobolan 10 gol dari 18 laga).
Bahkan sempat menumbangkan raksasa seperti Brasil (1-0) dan Argentina (2-1) dengan taktik bertahan yang rapat.
Paraguay juga melakukan transisi cepat dan serangan balik. Mereka tidak terlalu mendominasi penguasaan bola (possession).