internasional

Berbeda dari FIFA, UEFA Takkan Terapkan Prestianni Law di Kompetisi Eropa

Jumat, 3 Juli 2026 | 22:06 WIB
Gianluca Prestianni (kiri) diduga melontarkan kata-kata rasial kepada Vinicius Junior. (Eric Verhoeven)

SportlinkNews - UEFA memutuskan untuk tidak menerapkan regulasi Prestianni Law dalam Liga Champions pada musim depan. Keputusan ini tergolong mengejutkan mengingat aturan ketat tersebut awalnya lahir akibat insiden kontroversial yang terjadi di ajang tersebut pada musim lalu.

Regulasi baru mengenai Prestianni Law sebenarnya baru saja diberlakukan secara resmi oleh FIFA pada Piala Dunia 2026. Berdasarkan aturan tersebut, seorang pesepak bola berpotensi besar langsung menerima kartu merah dari wasit jika kedapatan berbicara dengan pemain lawan sambil menutup mulut dalam situasi konfrontatif.

Tercatat sudah ada dua pesepak bola yang menjadi korban ketegasan kartu merah langsung akibat melanggar regulasi baru ini selama turnamen di Amerika Utara berlangsung. Penggawa tim nasional Paraguay, Miguel Almiron, menorehkan catatan sebagai pemain pertama yang diusir keluar lapangan akibat aturan ini saat menghadapi Turki di babak penyisihan grup.

Baca Juga: Prediksi Kolombia vs Ghana: Duel Seru Bakal Terjadi di Stadion Kansas City

Kondisi serupa kemudian harus dirasakan bek tim nasional Ekuador, Piero Hincapie, dalam laga krusial lainnya di turnamen tersebut. Ia menerima kartu merah langsung dari pengadil lapangan dalam pertandingan babak 32 besar saat bersua Meksiko.

Namun, laporan The Athletic dan BBC menyebutkan UEFA mengambil langkah berbeda. UEFA menyatakan dengan tegas aturan ini takkan dipakai di ajang yang mereka naungi, yakni Liga Champions, Liga Europa, dan Conference League di level klub dan Piala Eropa serta UEFA Nations League di level tim nasional.

Guna mengantisipasi kejadian serupa di lapangan, induk organisasi sepak bola Benua Biru tersebut telah memberikan instruksi khusus kepada seluruh perangkat pertandingan. UEFA meminta wasit yang bertugas untuk menilai kasus yang terjadi dengan seksama, dan hanya memberikan kartu kuning jika memang ada seorang pemain yang menutup mulut saat berbicara hal-hal yang tidak sportif.

Baca Juga: Pelatih Tanjung Verde Kasih Peringatan: Kami Bisa Menyulitkan Argentina di Piala Dunia

Langkah preventif itu diambil agar pengadil lapangan tidak terburu-buru dalam memberikan sanksi pengusiran langsung kepada pemain yang bertanding. Namun UEFA juga menegaskan bahwa "saran ini jelas tanpa mengurangi penyelidikan atau proses disiplin apa pun yang mungkin terjadi sebagai konsekuensi dari, atau terkait dengan, perilaku tersebut."

Selain menolak aturan penutupan mulut, UEFA juga mengambil sikap tegas mengenai sanksi untuk aksi protes keras berupa boikot jalannya pertandingan. Mereka memastikan takkan memberikan kartu merah kepada pemain yang mogok bermain.

Meskipun menolak beberapa poin, fUEFA tetap mengadopsi kemajuan teknologi untuk membantu tugas pengadil lapangan. Mereka akan mengadopsi penerapan VAR untuk mengecek tendangan sudut yang harusnya menjadi tendangan gawang.

Baca Juga: Liverpool FC Bangun Monumen Mengharukan untuk Diogo Jota dan Andre Silva di Anfield

Pemanfaatan teknologi video untuk mengecek proses terjadinya sepak pojok itu melengkapi paket aturan baru yang diterapkan di turnamen global. Dua aturan itu juga baru berlaku di Piala Dunia 2026.

Kemunculan regulasi Prestianni Law bermula dari insiden yang terjadi pada laga play-off Liga Champions antara Benfica vs Real Madrid pada Februari lalu. Pertandingan tensi tinggi tersebut menjadi sorotan dunia setelah penyerang El Real, Vinicius Junior, menuduh Prestianni mengejeknya dengan sebutan monyet sambil menutup mulutnya.

Halaman:

Tags

Terkini

Portugal 2 vs Kroasia 1: Laga Penuh Anulir

Jumat, 3 Juli 2026 | 18:39 WIB

Teknologi Snicko Menghapus Air Mata Ronaldo

Jumat, 3 Juli 2026 | 09:46 WIB