SportlinkNews - Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) dikabarkan tengah mempersiapkan langkah untuk membatalkan hukuman kartu kuning yang diterima Michael Olise. Mereka menilai sanksi disiplin yang dijatuhkan oleh pengadil lapangan kepada pemain Bayern Munchen tersebut terlalu berlebihan dan tidak objektif.
Sanksi kartu kuning tersebut keluar dari saku wasit saat Prancis sukses mengandaskan perlawanan sengit Paraguay dengan skor tipis 1-0. Dalam pertandingan tensi tinggi babak 16 besar Piala Dunia 2026 yang digelar di Stadion Philadelphia itu, sempat terjadi friksi antara Olise dengan Matias Galarza.
Aksi saling dorong tersebut dipicu oleh rasa frustrasi Olise yang menilai Galarza kerap memperagakan permainan menjurus kasar sejak awal babak pertama. Olise dianggap melakukan tindakan tidak sportif karena terlihat seperti memegang bagian wajah dari Galarza.
Baca Juga: Brasil Gagal di Piala Dunia 2026, Carlo Ancelotti: Ini Awal, Bukan Akhir bagi Brasil
Namun, hasil evaluasi internal tim melalui rekaman video dari berbagai sudut kamera justru menunjukkan fakta yang bertolak belakang dengan keputusan awal wasit. FFF menemukan bukti yang memperlihatkan tangan Olise sebenarnya hanya mencengkeram bagian kerah jersei lawan dan sama sekali tidak menyentuh area kepala.
Langkah banding ini menjadi sangat krusial bagi kubu Les Bleus mengingat regulasi akumulasi kartu yang sangat ketat sepanjang turnamen berlangsung. Berdasarkan laporan dari Reuters, Olise terancam tidak bisa memperkuat negaranya di babak semifinal apabila kembali menerima kartu kuning pada pertandingan berikutnya.
Prancis sendiri dijadwalkan menantang tim kejutan Maroko pada laga perempat final yang akan digelar pada Jumat (10/7) dini hari WIB. Syarat mutlak agar Olise bisa tampil di fase empat besar adalah Prancis harus menang dan kartu kuning sebelumnya berhasil diputihkan melalui proses banding.
Upaya yang dilakukan oleh kubu Prancis ini langsung memunculkan spekulasi kalau meniru strategi hukum yang sebelumnya sukses diterapkan oleh negara lain. Momentum ini dinilai sangat mirip dengan kasus dicabutnya hukuman kartu merah yang menimpa penyerang andalan Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Balogun secara kontroversial dibebaskan dari hukuman larangan bertanding setelah kartu merahnya saat melawan Bosnia Herzegovina ditangguhkan oleh komisi disiplin FIFA. Keputusan tersebut membuat sang juru gedor utama bisa kembali merumput saat Amerika Serikat bersua Belgia pada babak 16 besar.
Proses pemutihan hukuman striker Amerika Serikat itu sendiri sempat memicu perdebatan panas dan kontroversi hebat di kalangan pencinta sepak bola internasional. Kabar yang beredar menyebutkan adanya intervensi politik dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang ikut turun tangan memberikan pengaruh dalam keputusan krusial tersebut.
Baca Juga: Roberto Martinez Mundur dari Timnas Portugal, Penggantinya Mantan Bos Ronaldo
Kendati memiliki kemiripan momentum, sejumlah laporan internal menegaskan langkah hukum yang ditempuh Prancis murni didasarkan pada bukti video yang valid. Mereka membantah keras tuduhan yang menyebut aksi protes resmi ini terinspirasi oleh keberhasilan diplomasi dari tim Negeri Paman Sam.
Tim hukum FFF kini tengah berpacu dengan waktu untuk menyerahkan berkas argumen beserta bukti visual pendukung ke meja komite banding FIFA sebelum laga perempat final dimulai. Kepastian mengenai status disiplin Olise diharapkan dapat segera keluar guna memberikan ketenangan bagi internal tim dalam masa persiapan taktis.