Pasalnya, hanya JDT yang berpeluang menikmati keuntungan besar seperti hadiah juara dan tiket menuju Liga Champions Asia Elite.
Tim-tim lainnya sekadar memperebutkan posisi kedua atau ketiga tanpa mendapatkan imbalan yang sepadan.
Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh masalah internal yang melanda sejumlah klub Malaysia, mulai dari ketidakkonsistenan performa hingga persoalan finansial.
Menurut Hodak, hal itu membuat kualitas kompetisi sulit meningkat.
Ironisnya, Bojan Hodak justru menjadi sosok yang mengawali kejayaan JDT.
Baca Juga: Pep Guardiola Jalani Pertandingan ke-1000 Pada Duel Manchester City vs Liverpool
Ia adalah pelatih pertama yang membawa klub asal Johor Bahru itu meraih gelar juara Liga Malaysia pada 2014.
Kini, Hodak berupaya mengulang kisah sukses serupa di Indonesia bersama Persib Bandung.
Namun, situasi di Indonesia disebut jauh berbeda.
Baca Juga: Tottenham Hotspur Dilanda Dilema, Ruben Amorim Boyong 20 Pemain Terbaiknya
“Di Liga Indonesia, ada enam atau tujuh tim yang bisa menjadi juara,” tutur Hodak.
Ia menilai, persaingan yang lebih merata di Indonesia membuat liga terasa lebih hidup dan menarik bagi para pemain maupun penonton.
Persib Bandung sendiri kini menempati posisi keempat di klasemen sementara Super League 2025-2026, di bawah Borneo FC, Persija Jakarta, dan Malut United.
Baca Juga: Jadwal Pertandingan Liga Primer Pekan ke-11, Manchester City Tantang Liverpool
Artikel Terkait
Piala Dunia U-17 2025: Brasil Sempurna Tanpa Kebobolan, Indonesia Masih Cari Poin Perdana di Grup H
Piala Dunia U-17 Qatar 2025: Dua Tim Lolos, Empat Tim Bangkit, Persaingan Kian Ketat
Tanpa Banyak Drama Zambia Ukir Sejarah Lolos ke Piala Dunia U17, Jadi Lawan Berat Brasil di Grup H
Ini Pengakuan Pelatih Nova Arianto Usai Timnas Indonesia Dijegal Brasil di Piala Dunia U17
Indra Sjafri Panggil 30 Pemain Muda untuk Pemusatan Latihan SEA Games 2025