SportlinkNews - Ramainya kepindahan pemain diaspora Timnas Indonesia ke kompetisi Super League musim ini memunculkan beragam spekulasi, termasuk dugaan adanya skenario tertentu dari PSSI. Isu tersebut langsung ditepis oleh anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, yang menegaskan federasi tidak memiliki peran apa pun dalam proses transfer pemain.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah pemain diaspora memilih melanjutkan karier di Super League. Pada awal musim, Persija Jakarta merekrut Jordi Amat, Persib Bandung mendatangkan Thom Haye dan Eliano Reijnders, Bali United mengamankan jasa Jens Raven, sementara Rafael Struick bergabung dengan Dewa United Banten FC.
Tren tersebut berlanjut pada putaran kedua kompetisi. Persija Jakarta kembali aktif dengan merekrut Shayne Pattynama dan Mauro Zijlstra. Persib Bandung menambah kekuatan lewat Dion Markx, sedangkan Ivar Jenner resmi melanjutkan karier bersama Dewa United Banten FC.
Baca Juga: Malut United FC Lepas Sembilan Pemainnya ke 6 Klub
Kondisi ini kemudian dikaitkan dengan persiapan Timnas Indonesia menuju Piala AFF 2026. Bermain di kompetisi domestik dinilai membuka peluang bagi para pemain itu untuk tampil di ajang tersebut.
Menanggapi anggapan itu, Arya menyebut tuduhan adanya campur tangan PSSI sebagai narasi yang keliru. Ia menekankan bahwa urusan transfer sepenuhnya berada di ranah profesional antara pemain dan klub.
"Ya ini, kita ini terlalu banyak teori konspirasi, jadi saya harap teman-teman wartawan mencerdaskan. Yang kasih isu juga (harusnya) mencerdaskan, jangan (menyesatkan). Karena namanya pemain, transfer, menyangkut uang," kata Arya.
Baca Juga: Demi Lolos dari Zona Degradasi Persis Solo Perkuat Lini Serangnya dengan Striker Asal Serbia
"Yang bayar pemain siapa? Apakah PSSI atau klub?. Kalau klub, berarti urusannya apa, nih. Urusannya duit. Tawar-menawar. Yang bayar, klub. PSSI enggak ada ikut-ikutan di situ. Enggak ada itu urusan PSSI," Arya menambahkan.
Arya merasa bingung dengan adanya anggapan tersebut. Ia menjamin kedatangan para pemain diaspora murni karena kebutuhan klub-klub Super League.
"Jadi, lucu kalau dibilang ini adalah skenario PSSI untuk (Piala) AFF. Memang pemain mau dibayar murah. Pemain pasti punya tawaran segini. (Klub) punya uang, eggak. Kalau eggak cocok, ya enggak jadi. Kalau cocok, jadi," ucapnya.
Baca Juga: Klasemen Super League 2025/26: Malut United Dibayangi Persebaya
"Dan, PSSI eggak ikutan ikut serta. Dari mana uang PSSI untuk ikut serta pemain. Dan, di dunia enggak terjadi seperti itu. Enggak ada namanya federasi ikutan taruh uang di klub," ia melanjutkan.
Piala AFF 2026 dijadwalkan berlangsung pada 24 Juli hingga 26 Agustus. Berdasarkan hasil undian, Timnas Indonesia tergabung di Grup A bersama Thailand, Singapura, Kamboja, serta pemenang laga play-off antara Timor Leste dan Brunei Darussalam.
Artikel Terkait
PSSI Siapkan Rekrutmen Asisten Pelatih Lokal, Herdman Terlibat Langsung Seleksi
Dipanggil KemenHAM, I.League dan PSSI Sampaikan Langkah Penanganan Isu Rasisme
PSSI–Kelme Jalin Kerja Sama Jangka Panjang, Timnas Indonesia Gunakan Jersey Baru Mulai 2026
China Incar Uji Coba November, PSSI Belum Ambil Keputusan
PSSI Kena Denda Komdis AFC, Catatan Serius dari Aspek Penyelenggaraan