EPA U-20 Memanas, Erick Thohir Tegaskan Sepak Bola Harus Bebas Rasisme

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Rabu, 22 April 2026 | 22:33 WIB
Direktur Akademi Dewa United Development Firman Utina, Pemain Dewa U20 Raka Nur Cholis, Direktur Akademi Bhayangkara Agus Carel, Pemain Bhayangkara U20 Fadly Alberto, Manajer Bhayangkara U20 Yongki P. (DEWA UNITED)
Direktur Akademi Dewa United Development Firman Utina, Pemain Dewa U20 Raka Nur Cholis, Direktur Akademi Bhayangkara Agus Carel, Pemain Bhayangkara U20 Fadly Alberto, Manajer Bhayangkara U20 Yongki P. (DEWA UNITED)

SportlinkNews - Isu pembinaan karakter kembali mencuat dalam sepak bola usia muda Indonesia.

Di tengah ambisi mencetak pemain berprestasi, Erick Thohir menegaskan pentingnya nilai kemanusiaan dan sportivitas, menyusul dugaan rasisme di kompetisi usia muda.

Menurut Erick, kasus yang terjadi dalam ajang Elite Pro Academy U-20 menjadi pengingat bahwa proses pembinaan tidak cukup hanya berfokus pada teknik dan hasil pertandingan.

Baca Juga: Latihan Singkat di Horsens, Skuad Indonesia Fokus Baca Karakter Lapangan

Ia menilai, aspek mental dan sikap pemain harus dibentuk sejak dini agar sejalan dengan standar sepak bola modern yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap sesama.

"Sepak bola tidak boleh memberi ruang bagi rasisme. Dari usia muda, pemain harus dibiasakan dengan nilai fair play, toleransi, dan disiplin," ujarnya di Jakarta, Rabu, 22 April 2026.

Alih-alih memperbesar konflik, pendekatan damai justru menjadi jalan yang ditempuh oleh kedua klub yang terlibat, yakni Dewa United FC dan Bhayangkara FC.

Baca Juga: Formula E Luncurkan Mobil Gen4 di Sirkuit Paul Ricard Bisa Digeber Hingga 334 Kpj

Melalui mediasi yang berlangsung kondusif, kedua pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

Direktur Akademi Dewa United, Firman Utina, menilai insiden tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama.

Ia menegaskan bahwa pemain muda merupakan aset jangka panjang yang membutuhkan pembinaan berkelanjutan, tidak hanya dari sisi kemampuan bermain, tetapi juga karakter.

Baca Juga: PSSI Pantau Dinamika Pengajuan Tuan Rumah Piala Asia 2031

Dari kubu Bhayangkara FC, komitmen serupa juga disampaikan. Manajemen mengakui bahwa faktor emosi di lapangan menjadi pemicu utama, sehingga penguatan mental pemain akan menjadi fokus ke depan.

Momen saling memaafkan antara Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis menjadi penutup dari rangkaian insiden tersebut. Keduanya sepakat menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran penting dalam perjalanan karier mereka.

PSSI pun mendorong langkah lanjutan berupa edukasi anti-rasisme, peningkatan pengawasan pertandingan, serta penerapan sanksi internal bagi pelanggaran yang terjadi.

Baca Juga: Bintang Akbar Jadi Wajah Kontingen Indonesia di Asian Beach Games 2026

Erick menilai, sinergi antara federasi, operator kompetisi, dan klub menjadi kunci agar kompetisi usia muda benar-benar menjadi ruang belajar yang sehat.

Ia juga mengapresiasi upaya damai yang ditempuh kedua klub sebagai cerminan nilai persatuan.

"Ini menunjukkan bahwa sepak bola kita harus dibangun dengan semangat kebersamaan. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tapi disatukan demi Indonesia," tegas Erick.

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Sumber: PSSI

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Persija Jakarta Resmi Rekrut Victor Dethan

Sabtu, 27 Juni 2026 | 21:05 WIB
X