Siapa Igor Tudor yang Dipercaya Tottenham Hotspur? Ini Rekam Jejaknya

Andi Wahyudi, Sportlink News
- Jumat, 20 Februari 2026 | 14:45 WIB
Igor Tudor (Juventus)
Igor Tudor (Juventus)

Setelah pensiun sebagai pemain, Tudor memulai karier kepelatihannya dengan tim junior Hajduk Split.

Ia menghabiskan sembilan bulan sebagai asisten pelatih Kroasia pada musim 2012/13, sebelum mengambil peran manajerial senior pertamanya kembali di Hajduk Split.

Selama 20 bulan yang ia habiskan sebagai pelatih tetap menjadi masa terlama yang pernah ia habiskan di satu klub.

Baca Juga: Real Madrid Keluarkan Pernyataan Terkait Dugaan Pelecehan Rasial terhadap Vinicius Junior

Sejak itu ia telah memimpin PAOK, Karabukspor, Galatasaray, Udinese, Hajduk Split (lagi), Hellas Verona, Marseille, Lazio, Juventus dan sekarang Spurs.

Ia meninggalkan Marseille setelah membawa mereka ke posisi ketiga di Ligue 1 selama satu-satunya musim kepemimpinannya.

Setelah masa singkatnya di Prancis, ia menghabiskan tiga bulan di Lazio, di mana ia hanya kalah dua dari 11 pertandingan yang dipimpinnya.

Baca Juga: Teyana Taylor Pamer Kolaborasi Baru Air Jordan 3 Concrete Rose di NBA All-Star 2026

Tudor kemudian bertahan selama tujuh bulan di Juventus dalam masa jabatan yang berlangsung selama dua musim.

Yang perlu diperhatikan, dari perspektif Spurs, dalam dua peran terakhirnya ia meraih kesuksesan dalam menstabilkan klub yang sedang krisis saat mereka berupaya untuk tetap lolos ke kompetisi Eropa di akhir musim.

Tudor juga dua kali menyelamatkan Udinese yang terancam degradasi di Serie A ketika ditunjuk dalam dua musim berturut-turut.

Baca Juga: Persebaya Siapkan Skema Khusus Hadapi Jadwal Ketat Pertandingan Selama Puasa Ramadan

Igor Tudor tiba di Spurs dengan filosofi yang jelas yang bertumpu pada sepak bola agresif, intensitas yang sangat tinggi, dan tuntutan agar para pemainnya berlari.

Saat melatih Marseille, ia mencoret pemain paling berbakat klub, Dimitri Payet, karena pemain Prancis itu tidak dikenal karena kemampuan berlarinya.

“Dalam sepak bola modern, kekuatan fisik sangat mengalahkan kualitas,” katanya saat melatih Juventus tahun lalu. “Kualitas selalu penting, tentu saja, tetapi tanpa kekuatan fisik, kualitas tidak ada,” tegasnya.

Halaman:

Editor: Andi Wahyudi

Sumber: Premier League

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X