Prinsip ini bagus dari sisi keberlanjutan finansial, tetapi seringkali kalah saing dengan klub lain yang menawarkan bayaran lebih menggiurkan.
Baca Juga: Frans Putros Ungkap Gaya Bermain di Persib, Terinspirasi Sergio Ramos
Dari segi reputasi dan proyek olahraga, Newcastle memang menunjukkan ambisi besar dan perkembangan positif, tetapi proyek mereka masih terbilang muda.
Beberapa pemain masih ragu bergabung dengan proyek yang belum terbukti, apalagi dibandingkan dengan klub-klub besar yang sudah rutin bersaing memperebutkan gelar.
Reputasi Newcastle yang sempat stagnan selama bertahun-tahun membuat mereka belum sepenuhnya menjadi tujuan utama pemain top.
Kompetisi dari klub-klub besar Eropa juga menjadi tantangan berat.
Newcastle harus bersaing dengan klub-klub seperti Bayern Munich, Manchester City, Real Madrid, Liverpool, Chelsea, dan Arsenal.
Ketika klub-klub ini ikut mengejar pemain yang sama, Newcastle sering kalah, bukan karena kurang ambisi, tapi karena para pemain masih lebih tertarik pada klub-klub dengan reputasi lebih tinggi.
Baca Juga: Benjamin Sesko Resmi Gabung Manchester United dengan Harga Rp1,6 Triliun
Selain itu, penjual juga kerap enggan bernegosiasi dengan Newcastle tanpa tawaran harga premium.
Mengetahui kekuatan finansial Newcastle, beberapa klub menaikkan harga atau menunda proses transfer untuk memicu perang penawaran.
Akibatnya, biaya transfer membengkak dan Newcastle pun sering mundur karena nilai tersebut dianggap tidak sebanding.
Baca Juga: Debut Juan Villa Jadi Motor Penggerak Serangan Borneo FC Samarinda ke Gawang Bhayangkara FC
Kesimpulannya, Newcastle United sudah jauh dari status klub yang terancam degradasi, tapi mereka masih dalam proses membangun tim yang solid.