SportlinkNews Inter Milan kini berada punya kans besar mengawinkan gelar domestik pada pengujung musim 2025/26. Keberhasilan menembus partai final Coppa Italia menjadi sinyal kuat dominasi total skuad asuhan Cristian Chivu di kancah sepak bola Italia.
Langkah meyakinkan menuju partai puncak dipastikan setelah kemenangan dramatis 3-2 atas Como di San Siro pada Rabu (22/4) dini hari WIB. Meski sempat tertinggal dua gol, mentalitas baja Hakan Calhanoglu dan kolega berhasil membalikkan keadaan sekaligus mengunci tiket final.
Hasil tersebut membuat agregat akhir berpihak pada Nerazzurri setelah pada pertemuan pertama kedua tim hanya bermain imbang tanpa gol. Kini, Inter Milan tinggal menanti pemenang antara Atalanta melawan Lazio sebagai lawan tanding di Roma pada 13 Mei mendatang.
Baca Juga: Aprilia dan Yamaha Turunkan Wildcard di Grand Prix Spanyol
Fokus Inter tidak hanya terbelah pada kompetisi piala, melainkan juga pada percepatan penguncian gelar juara Liga Italia musim ini. Dengan koleksi 78 poin dari 33 laga, mereka saat ini berdiri kokoh di puncak klasemen sementara Serie A.
Keunggulan 12 poin atas AC Milan dan Napoli membuat pesta juara Scudetto ke-21 bisa saja terjadi lebih awal pada akhir pekan ini. Skenario tersebut terwujud jika Inter mampu menumbangkan Torino sementara para pesaing terdekat mereka gagal memetik poin penuh.
Keberhasilan menjaga konsistensi di dua kompetisi berbeda ini diapresiasi tinggi oleh sang pelatih, Cristian Chivu, dalam sesi wawancara usai laga. Ia menekankan bahwa posisi menguntungkan ini merupakan buah dari dedikasi tanpa henti seluruh elemen tim sepanjang musim.
Baca Juga: Liverpool Cetak Rekor Gol Tandang di Liga Primer, Sundulan Virgil van Dijk Jadi Gol ke-1.000
"Kami mencapai posisi ini lewat kerja keras, menempatkan diri kami pada posisi yang memungkinkan kami untuk bermimpi, untuk mencapai target meraih trofi juara Serie A dan Coppa Italia," ujar Chivu dikutip Football Italia.
Ambisi meraih dua gelar ini membawa ingatan publik kembali ke memori manis tahun 2010 saat Inter masih ditangani Jose Mourinho. Menariknya, Chivu saat itu merupakan salah satu pilar penting dalam skuad yang berhasil meraih prestasi fenomenal tersebut sebagai pemain.
Kini, setelah belasan tahun berlalu, peran Chivu telah bertransformasi dari seorang bek tangguh menjadi juru taktik yang disegani di pinggir lapangan. Kesuksesannya membawa Inter melaju kencang di jalur juara membuat publik mulai menyandingkan namanya dengan sosok sang mentor, Mourinho.
Baca Juga: Pep Guardiola Bongkar Rahasia Manchester City untuk Memenangkan Gelar Liga Primer Inggris
Meski demikian, Chivu menanggapi perbandingan tersebut dengan sangat rendah hati dan mencoba menjauh dari sorotan berlebihan media. Ia menegaskan bahwa prioritas utamanya saat ini hanyalah menjaga fokus para pemain demi menuntaskan tugas besar di sisa musim.
"Kalian wartawan suka dengan judul heboh, tapi saya hanyalah seorang Cristian, satu-satunya tanggung jawab saya adalah kepada para pemain ini," ujarnya.
Artikel Terkait
Kabar Tim Inter: Kapan Bisseck & Lautaro Diperkirakan Pulih dari Cedera
Inter Milan Semakin Dekat dengan Gelar Scudetto Usai Tundukkan Cagliari 3-0
Inter: Barcelona Tahu Nomor Teleponnya Jika Mereka Menginginkan Bastoni
Inter 3-2 Como: Perjuangan Luar Biasa untuk Mendapatkan Tempat di Final
Unggul 2-0, Inter Berbalik Tekuk Como, Fabregas Tak Bisa Marah