Namun, justru reaksi inilah yang diinginkan oleh Bedford.
Baca Juga: Jelang Leg Kedua vs Real Sociedad, Amorim Akui Manchester United di Bawah Tekanan
Sebagai seorang fotografer yang telah menghabiskan 15 tahun mengejar kesempurnaan dalam karyanya, Bedford menyadari bahwa kesalahan bisa menjadi strategi efektif untuk menarik perhatian dalam ekosistem digital.
“Proyek ‘ERROR’ membuka mata saya tentang bagaimana kesuksesan di dunia maya bisa dicapai melalui penyampaian informasi yang disengaja salah, menggantikan konsep kesempurnaan dengan kesalahan yang terstruktur,” ujar Bedford.
Dalam era digital yang didorong oleh algoritma, interaksi pengguna menjadi faktor utama dalam menyebarkan sebuah konten.
Baca Juga: Gianluigi Donnarumma Dilarang Pakai Seragam 99 di PSG, Ini Alasannya
Konten yang memicu reaksi, baik positif maupun negatif, cenderung lebih cepat menyebar karena dianggap relevan oleh platform media sosial.
Bedford dengan cerdik memanfaatkan konsep ini dalam proyeknya.
Dengan mengacaukan estetika suci dalam sepak bola—di mana seragam tim adalah simbol identitas yang sakral—ia mengajak para penggemar untuk mempertanyakan respons naluriah mereka sendiri.
Baca Juga: Pevoli Cantik Indonesia Yolla Yuliani Melamar ke Korea Susul Megawati
Dalam dunia yang terobsesi dengan keaslian tetapi juga dikendalikan oleh algoritma, proyek ‘ERROR’ menjadi bentuk eksplorasi terhadap ketegangan antara tradisi dan gangguan.
Bedford membuktikan bahwa terkadang, reaksi terbesar justru muncul dari sesuatu yang ‘salah’.
Dengan menciptakan kesalahan yang disengaja, ia berhasil menarik perhatian, memicu diskusi, dan menunjukkan bagaimana dalam dunia digital saat ini, kesalahan bukan hanya sekadar kekurangan, tetapi juga bisa menjadi alat komunikasi yang ampuh.