Catatan Sepak Bola: Pergantian Shin Tae-yong, Maju Kena, Mundur Kena

Suryansyah, Sportlink News
- Rabu, 8 Januari 2025 | 06:23 WIB
Shin Tae-yong resmi dipecat PSSI, Senin (6/1) (Instagram.com/erickthohir)
Shin Tae-yong resmi dipecat PSSI, Senin (6/1) (Instagram.com/erickthohir)

  • M. Nigara
    Wartawan Sepakbola Senior

Sportlinknews - Maju Kena, Mundur Kena, begitu judul film Warkop yang kondang di era 1980an. Pepatah lama itu melukiskan keadaan yang serba berat. Itulah yang harus ditanggung PSSI saat ini paska melepas Shin Tae-yong, pelatih timnas asal Korea Selaran.

Keputusan berat itu sesungguhnya sudah sayup-sayup terdengar sejak tahun lalu. Tapi hingga Piala ASEAN Desember 2024, tak pernah jadi kenyataan. Namun, Senin (6/1/25) siang, akhirnya gelegar itu datang juga.

Para pendukung timnas, wabil khusus STY, sangat terkejut. Kecewa dan tidak sedikit yang marah. Media sosial dalam sekejab dipenuhi oleh perbincangan tentang PSSI dan STY. Sesuatu yang normal terjadi.

Baca Juga: Erick Thohir Sebut Pelatih Baru Sepakat Bawa Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2026

Hak PSSI
Namun, pergantian pelatih dalam satu timnas, sesungguhnya hal yang biasa. Pergantian adalah haknya federasi dalam hal ini PSSI. Dan, pergantian pasti bertujuan untuk perbaikan.

Biasanya, pergantian didasari oleh indikator prestasi. Pelatih bisa diganti jika tidak dapat memenuhi terget tertentu. Dan, biasanya juga tertuang alam kontrak.

Sekadar mengingatkan, tahun 2019, STY dikontrak untuk menangani timnas U20, di mana Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia. Karena masalah politik praktris, menolak Israel, kita batal jadi tuan rumah, dan STY dialihfungsikan ke timnas yang lain.

Baca Juga: Putra Shin Tae-yong Marah Besar Atas Pemecatan Ayahnya

Tapi pergantian itu bisa juga karena ada hal-hal yang lain. Salah satunya adalah soal komunikasi. Untuk yang satu ini, komunikasi bukan hanya dengan pemain, tetapi juga dengan mayoritas pengurus, dan atau pihak lain.

Nah, dari seabrek prestasi STY, yang paling menonjol adalah kumpulan pemain naturalisasi (prestasi tersendiri) dan membawa tiga level timnas ke putaran final piala Asia.

Sepanjang sejarah, sejak 19 April 1930, lahirnya PSSI, belum ada seorang pelatih nasional dari mana pun itu, termasuk Toni Pogacknik (Yugoslavia, sukses menahan Uni Soviet 0-0 di laga pertama, dan kalah 0-4 di laga play off, babak kedua Olimpiade, Merlbourne 1956).

Baca Juga: Sah Dikontrak 2 Tahun, Patrick Kluivert Gantikan Shin Tae-yong

Juga, Wiel Coerver (Belanda, nyaris membawa timnas ke Olimpiade, Montreal, Kanada, di laga terakhir kalah adu penalti dari Korut, 1976).

STY, mampu membawa secara bersamaan timnas ke putaran final Piala Asia. Langsung atau tidak, STY mampu membawa U17, U20, dan Senior ke putaran final.

Halaman:

Editor: Suryansyah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Final Piala Dunia 2026: Saatnya Spanyol...?

Jumat, 17 Juli 2026 | 11:00 WIB
X