Indonesia dan China adalah dua negara Asia lain yang menjadi pusat produksi sepatu kets Nike.
"Kami melihat bahwa mengingat daftar tarif yang luas, industri akan menyadari bahwa hanya ada sedikit pilihan untuk mengurangi dampak dalam jangka menengah selain dengan menaikkan harga," kata analis UBS, Jay Sole.
David Swartz, analis ekuitas senior di Morningstar, juga memperkirakan bahwa kenaikan harga berpeluang terjadi.
Baca Juga: Mohames Salah Pamer Jam Tangan Mewah Seharga Rp 14 Miliar
Ia mengatakan kenaikan harga yang siginifikan akan mengurangi permintaan.
"Ini adalah industri yang sangat kompetitif. Dugaan saya, akan sulit bagi Nike untuk menaikkan harga lebih dari 10-15%. Saya rasa itu tidak akan bisa mengimbangi pengenaan tarif," katanya.
Dengan kondisi ini, diperkirakan banyak produk pakaian dan alas kaki asal negara-negara Barat seperti H&M, Adidas, Gap, dan Lululemon akan menghadapi kesulitan yang sama.
Baca Juga: Ancelotti Marah dengan Keputusan Jadwal La Liga, Lupakan Arsenal Fokus Alaves
Nike sudah mulai mengalami penipisan perolehan laba bersih.
Penjualan Nike pada tahun fiskal terakhir mencapai $51 miliar (Rp862 triliun).
Biaya produksi, pengiriman, perolehan laba dari pihak ketiga, dan biaya gudang, menghabiskan sekitar 55% dari pendapatan, sehingga menghasilkan margin laba kotor lebih dari 40%.
Baca Juga: Man City 5 Crystal Palace 2: Kevin De Bruyne Pimpin Kebangkitan Dramatis
Namun, laba akan berkurang seiring penambahan biaya operasi bisnis lainnya. Sepertiga dari pendapatannya, misalnya, dihabiskan untuk biaya penjualan dan administrasi.
Saat memperhitungkan bunga dan pajak, margin laba Nike menyusut menjadi sekitar 11%.
Hal itu berlaku untuk semua produknya, karena Nike tidak membagi biaya secara terpisah untuk masing-masing jenis barang.