sneaker

Donald Trump Ledakan Perang Tarif, Begini Dampak Penjualan Nike di Indonesia

Minggu, 13 April 2025 | 10:34 WIB
Nike Air Jordan 1, sebagai salah satu sepatu ikonik merk asal AS. (nike)

Rahul Cee, yang mendirikan situs ulasan sepatu kets Sole Review, mengatakan ada cara lain yang dapat dilakukan Nike untuk menjaga harga eceran tetap rendah.

Cee, yang pernah belajar sebagai desainer alas kaki dan bekerja untuk Nike dan Vans di India, mengatakan salah satu caranya adalah dengan menurunkan tingkat teknologi pada sepatu kets.

"Jadi, daripada menggunakan busa dan midsole berperforma tinggi, gunakan EVA (etilena-vinil asetat) yang dicetak dengan injeksi," katanya.

Pilihan lain adalah memperbaharui siklus desain setiap tiga hingga empat tahun, daripada mengeluarkan desain baru setiap satu atau dua tahun.

Belum ada kepastian kenaikan harga produk
Simeon Siegel, direktur pelaksana di BMO Capital Markets, mengatakan sebagian besar perusahaan memandang pengumuman hari Rabu sebagai "masih jauh dari kesimpulan akhir".

"Saya kira tidak banyak orang yang percaya bahwa angka-angka itu sudah pasti," katanya.

Secara teori, Nike adalah merek besar sehingga seharusnya dapat menaikkan harga tanpa memengaruhi penjualan mereka, katanya.

Di sisi lain, Siegel mengatakan Nike belum bisa menunjukkan kenaikan angka yang bakal dikenakan kepada produknya.

Bahkan sebelum pengumuman tarif, Nike menghadapi kemerosotan penjualan yang menghalanginya menetapkan harga sepatunya.

Kepala keuangan perusahaan, Matthew Friend, sempat menyebut isu tarif ini memengaruhi kepercayaan konsumen.

Sementara itu, Nike sangat bergantung pada penjualan di AS. Pasar AS menyumbang sekitar US$21,5 miliar (sekitar Rp354 triliun) dari penjualannya—yang juga merupakan pangsa pasar terbesar di kawasan Amerika Utara.

Sentimen pasar AS menjadi begitu krusial bagi Nike karena secara langsung memengaruhi permintaan alas kakinya, kata Sheng Lu, profesor studi mode dan pakaian di University of Delaware.

Sheng Lu mengatakan memperkirakan Nike akan terdesak membebankan biaya pungutan kepada konsumen.

"Nike kemungkinan besar akan menaikkan harga jika perang tarif terus berlanjut. Tidak ada cara bagi merek untuk menyerap kenaikan biaya pengadaan sebesar 30% hingga 50%."

Ia menambahkan: "Bagaimana mitra dagang AS bereaksi terhadap kebijakan tarif timbal balik yang juga akan berdampak besar."

Halaman:

Tags

Terkini