- Catatan Sepakbola
M. Nigara
SportlinkNews - EMPAT tahun menjelang satu abad hari ini, 96 tahun lalu, seorang pemuda (32), insinyur kereta api lulusan Belanda, demi kemerdekaan rela melepas jabatannya di perusahaan milik Hindia-Belanda lewat sepakraga.
Dialah Soeratin Sosrosoegondo, lahir di Yogyakarta (17/12/1898). Ayahnya R. Soesrosoegondo, adalah seorang guru di sekolah yang terpandang Kweekschool. Selepas sekolah lanjutan atas di Koningen Wielhelmina School, karena kecerdasannya ia lanjut ke Heckenburg, Hamburg, Jerman, jurusan Teknik Tinggi.
Tahun 1928, sekembali dari Jerman, ia bekerja di kontruksi, merancang dan membangun jembatan kereta api Tegal-Bandung.
Baca Juga: PSSI Rayakan 96 Tahun, Tegaskan Persatuan dan Target Piala Dunia 2030
Namun jiwanya tak tenang melihat penjajahan begitu rupa. Apalagi kakak istrinya, Sri Woelan, Dokter Boedi Oetomo, salah seorang pendiri Boedi Oetomo, selalu memberikan gambaran tentang kemiskinan dan penindasan kolonial pada bangsanya begitu kejam. Kemerdekaan sangat mutlak harus dicapai.
Soeratin yang kala itu tercatat sebagai pribumi bergaji paling besar, tergugah. Bersama beberapa temannya, termasuk Ernest Albert Mangindaan (ayahanda EE Mangindaan), bersepakat mendirikan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) di Yogyakarta.
Langkah PSSI secara tegas mengikuti jejak Soempah Pemoeda, 28 Oktober 1928. Indonesia belum lahir, tapi mereka berani menyatakan ke-Indonesiaannya.
Baca Juga: Gillenwater Menggila, Dewa United Tembus Zona Playoff Usai Tekuk Hangtuah
Peran PSSI
Tahun 1906, mudah-mudahan tidak keliru, pemerintah Hindia Belanda secara resmi memasukkan enam cabang olahraga ke Nusantara. Sekali lagi, mudah-mudahan tidak salah: Anggar, Senam, renang, berkuda, bola tangan, dan sepakraga.
Lima cabor inlander diharamkan untuk memainkannya. Hanya sepakraga yang boleh dimainkan. Mengapa? Rupanya, sejak dulu, kaum pribumi selepas berlaga, mereka suka sekali mendiskusikannya.
Kabarnya itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda memperbolehkan kaum pribumi bermain sepakraga. Hampir setiap laga usai, diskusinya sangat panjang seolah lupa segalanya.
Untuk itu, pemerintah Hindia Belanda ingin kaum pribumi melupakan kondisi yang nyata, dan terbuai pada diskusi tentang pertandingan.
Baca Juga: Chelsea Belum Putus Asa Kejar Tiket Liga Champions
Istimewanya Soeratin justru ingin memanfaatkan kenyataan itu justru untuk melakukan perlawanan. Jika kakak ipar, Dokter Soetomo berjuang lewat pendidikan, para pejuang di hutan-hutan, dan politisi di meja-meja perundingan, Soeratin dkk berjuang di lapangan.
Artikel Terkait
Hasil Super League: Bali United Gulung Malut United, Empat Gol Bersarang di Gawang Laskar Kie Raha
Minta Neymar Tiru Messi dan Ronaldo, Presiden Brasil Beri Wejangan Jelang Piala Dunia 2026
Pembalap KTM Pedro Acosta Akui Kemampuan Belok Aprilia Sangat Luar Biasa
Sapu Bersih Final Four, JPE Kirim Sinyal Kuat Jelang Grand Final Proliga 2026
Juventus 2-0 Bologna: Si Nyonya Tua Nyaman di Empat Besar
Man City 2 Arsenal 1: Gol Haaland Selamatkan Muka Donnarumma