Sebelum juara di PON XXI Aceh-Sumut 2024 lalu, anak sulung dari lima bersaudara pasangan Dufri Masihor dan Sorsin Katiadagho ini sudah puluhan kali juara di berbagai event nasional. Bahkan sejak masih bermain dikategori junior di saat usianya masih belasan tahun.
Pada penampilan perdananya di PON Papua 2021, Oy, sapaanya mempersembahkan medali perunggu. Saat itu dia bertekad akan naik di podium tertinggi pada PON 2024.
Janji itu dia buktikan. Di final PON 2024, Oy mengalahkan seniornya. Petinju yang cukup disegani di negeri ini, Aldom Sugoro. Petinju asal DKI peraih tiga medali perak PON dan pendulang emas pada SEA Games 2017.
Baca Juga: Girona 1-1 Real Madrid: Tiga Kali Tanpa Menang, Resmi Kehilangan Puncak Klasemen
“Mohon doa seluruh masyarakat Sulsel. Semoga atlet kebanggan kita bisa pulang membawa hasil yang sempurna,” ujar Harpen Ali.
Putra tokoh olahraga nasional A Reza Ali ini sudah komitmen, meski tak ada perhatian, bantuan dan support anggaran dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel ia bertekad tetap akan membawa atlet andalannya ini bertarung hingga ke Mancanegara.
"Ini kesempatan emas bagi atlet binaan PERTINA Sulsel untuk bisa tampil di kejuaraan dunia. Apalagi ini momentum yang baik untuk mengukir sejarah dan mengukur kemampuan atlet Sulsel di kejuaraan dunia,” timpal Sekretaris Pengprov PERTINA Sulsel, Sri Syahril.
Menurut Sri Syahril, ini bukan membawa nama pribadi saja, tetapi demi membawa nama Kpta harum Makassar, Sulsel dan Indonesia di kancah dunia. Karena itu dia berharap Pemprov Sulsel dan Pemkot Makassar bisa lebih peduli dengan atlet yang berprestasi.
Baca Juga: Tinju Bukan Tentang Kekerasan tapi Ini Alasan Disebut Sains Manis
Sementara itu Holy yang dihubungi mengaku telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Tidak hanya di Makassar tapi ia juga sudah menjalani Training Centre (TC) di Jakarta.
"Mohon doa seluruh rakyat Indonesia khusunya masyarakat Sulsel semoga kami meraih hasil maksimal demi mengibarkan bendera dan lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di kejuaraan dunia ini," ujar Holy penuh semangat.
Pada event ini federasi tinju dunia, The International Boxing Association (IBA) sebagai penyelenggara menyediakan hadiah uang pembinaan yang cukup besar.
Baca Juga: Jaket Balap Spesial Valentino Rossi Dilelang untuk Kegiatan Amal Unicef
Totalnya USD 8,32 juta atau setara Rp 138 miliar. Hadiah itu untuk untuk 104 juara dari 13 kelas yang pertandingan. Atau delapan pemenang tiap kelas.
Rinciannya, juara satu akan mendapatkan hadiah USD 300.000, juara dua USD 150.000, untuk juara tiga USD 75.000 dan USD 10.000 bagi juara lima.