Perbedaan postur antara keduanya yang sangat tajam, Tszyu (175 cm) dan Fundora (197 cm) salah satunya. Selain itu, gaya Fundora yang juga menyimpang dari kebiasaan petinju jangkung, membuat laga jadi menarik.
Seperti kelaziman yang ada, petinju dengan postur tinggi, hampir selalu bermsin dengan mengandalkan jarak. Biasanya, senjata ampunya adalah pukulan lurus. Tapi, tidak dengan Fundora.
Baca Juga: Soal Target Medali di Olimpiade Paris, NOC Indonesia: Tunggu Hingga Kualifikasi Selesai
Meski memiliki postur yang sangat jangkung, ternyata Fundora justru diposisikan sebagai underdog. Padahal ia mampu bertarung jarak dekat yang bisa membahaya sang juara WBO asal Australia itu. Kombinasi hook dan uppercut nya memiliki speed dan power yang luar biasa.
Fundora memiliki gaya Swarmer. Biasanya ditampilkan oleh petinju bertubuh pendek dengan hight indurance (ketahanan fisik yang tinggi), seperti Mike Tyson. Gaya ini menekan dan melancarkan pukulan uppercut dan hook secara 'membabi-buta' dari jarak sangat dekat dan selalu mematikan lawan.
Menjadi sangat menarik, Tszyu juga ternyata jagoan bertarung dalam jarak sempit. Walau tidak atau belum sehebat sang ayah, tapi ia mampu bertarung dengan banyak pukulan.
Artinya, walau perbedaan postur sangat mencolok, jual beli pukulan pasti akan terjadi. Maka laga ini diprediksi bisa jadi the Best Fighter of the year.
Di pasar taruhan, sebagai petarung yang tidak diunggulkan, menurut TAPOLOGY dalam analisa dan prediksi, Fundora hanya berpeluang menang 6 persen saja. Bahkan menang KO atau TKO hanya 2 persen. Sementara Tszyu, 94 persen. Bahkan Tszyu diyakini bisa menang KO/TKO.
Benarkah begitu? Kita butuh pembuktian di hari Minggu 31 Maret, pagi waktu tvone. Untuk itu, jangan lewatkan laga yang satu ini.
M. Nigara
Wartawan Tinju Senior
Komentator tvone