Faktor ini kerap menjadi penghambat performa mereka dalam race penuh.
Baca Juga: Piala Sudirman 2025: Dominasi Cina Belum Tergoyahkan, Rebut Tiket Final untuk Ke-16 Kalinya.
Langkah pembenahan internal pun dilakukan Yamaha.
Mereka merekrut sejumlah teknisi dari Ducati, termasuk untuk posisi direktur teknis, demi menerapkan pendekatan bergaya Eropa yang lebih terbuka terhadap inovasi.
Tak hanya itu, kembalinya tim satelit—dengan kehadiran Pramac Racing dalam struktur Yamaha—menjadi sumber data tambahan yang sangat penting untuk pengembangan motor.
Baca Juga: Piala Sudirman 2025: Indonesia Siapkan Strategi Baru Hadapi Kekuatan Penuh Korea
“Kini kami bisa mengakses dua kali lipat data dibanding tahun lalu, dan itu sangat membantu dalam mempercepat pengaturan motor,” lanjut Meregalli.
Target Yamaha di musim ini cukup realistis: konsisten finis tiga besar di paruh musim kedua serta memiliki dua pembalap yang lolos otomatis ke Q2.
Untuk perebutan gelar juara, Meregalli mengaku belum menaruh harapan besar, apalagi melihat dominasi Ducati.
Baca Juga: Tugas Berat Ricky Nelson Bawa Persija Masuk Empat Besar Liga 1 2024/2025
“Untuk saat ini, Ducati masih jadi benchmark. Pecco dan Alex [Marquez] adalah kandidat kuat."
"Kami hanya ingin menjadi pabrikan kedua terbaik, setara atau lebih baik dari Aprilia dan KTM, serta meninggalkan Honda,” ungkapnya.
Yamaha kini membidik konsistensi dan pengembangan jangka panjang, sembari berharap momentum positif ini terus berlanjut hingga akhir musim.
Artikel Terkait
Torino 1-1 Venezia: Vanoli Pingsan di Pinggir Lapangan karena Stres
Kapten Timnas Indonesia Handball, Venezia Gagal Menang
Man City 1 Wolves 0: Kevin De Bruyne Mengikuti jJejak Lionel Messi dengan Gol Penting
Dua Dekade Silam, Lionel Messi Cetak Gol Pertamanya ke Gawang Albacete
Terlibat Pengaturan Skor Pertandingan, FIFA Degradasi Tim Sepak Bola Vietnam