SportlinkNews - Dominasi teknologi aerodinamika pada motor modern MotoGP kembali menuai tanggapan kritis dari Marc Marquez. Pembalap tim Ducati Lenovo tersebut menilai kecanggihan perangkat mekanis saat ini telah mengikis aspek keterampilan individu seorang pembalap.
Sektor aerodinamika beserta fitur ride height device memang terus mengalami evolusi pesat sepanjang satu dekade belakangan. Meskipun lonjakan teknologi berhasil melipatgandakan kecepatan motor, atmosfer serta dinamika persaingan di lintasan justru dinilai mengalami pergeseran mendasar.
Marquez menyebut ruang gerak pembalap untuk berimprovisasi di atas lintasan kini semakin terbatas. Para pembalap dipaksa tunduk pada kalkulasi mekanis perangkat ketimbang mengandalkan insting balap alami mereka.
Baca Juga: Ipswich Town Rekrut Daizen Maeda untuk Arungi Liga Primer 2026/27
"Motor yang paling saya nikmati adalah motor pada 2014, 2015, dan 2016, saat belum ada aerodinamika. Sekarang memang motor ini sangat menyenangkan dikendarai, tapi lebih seperti gaya berkendara robot," kata Marquez dalam wawancara dengan Bike World.
Penunggang kuda besi asal Spanyol tersebut menjelaskan gaya berkendara modern dituntut untuk selalu selaras dengan sistem aerodinamika. Upaya pemaksaan karakter pribadi justru berisiko merusak ritme balap serta mengorbankan catatan waktu.
"Anda harus mengikuti apa yang diinginkan aerodinamika dan Anda tidak bisa lagi mengalahkan karakter motor itu. Kalau Anda memaksa motor keluar dari batasnya, Anda justru melawan aerodinamika dan akhirnya menjadi lebih lambat," ucapnya.
Baca Juga: Atletico Madrid Rekrut Gelandang PSG, Lee Kang-in Tandatangani Kontrak Lima Tahun
Lantas Marquez mengenang kembali fleksibilitas pengendalian motor pada periode rentang musim 2014 hingga 2016. Pada era tersebut, kemampuan manuver pembalap di batas maksimal masih menjadi faktor pembeda yang sangat krusial.
"Pada 2014, 2015, dan 2016 tanpa aerodinamika, kalau Anda memaksa motor, justru bisa lebih cepat karena motor mulai sliding dan ban depan mulai kehilangan grip. Saat itu kita sering melihat penyelamatan luar biasa (save)," ujarnya.
Situasi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi teknis yang dihadapi para pebalap pada kejuaraan saat ini. Besarnya gaya tekan ke bawah menghilangkan toleransi koreksi saat kendaraan kehilangan cengkeraman.
Baca Juga: Daizen Maeda Jadi Pilihan Ipswich Town untuk Jalani Kerasnya Persaingan Liga Primer 2026/27
"Sekarang sudah tidak lagi. Masalahnya, downforce yang kami miliki sekarang memberikan tekanan sangat besar ke ban depan. Ketika ban depan mulai kehilangan grip, ban itu tidak pernah kembali," ungkapnya.
Marquez menegaskan bahwa pandangan kritis ini murni berdasar pada pengamatannya terhadap evolusi teknis motor secara keseluruhan. Evaluasi objektif tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan keberadaan tim pabrikan yang pernah atau sedang dibelanya.
Artikel Terkait
Tuntut Reformasi Keselamatan di Assen, Marc Marquez Desak Evaluasi Total Area Gravel
Marc Marquez Bidik Kemenangan Grand Prix Jerman di Sachsenring Demi Mengejar Poin
Marc Marquez Tampil Dominan di GP Jerman, Buntuti Jorge Martin dan Ai Ogura di Klasemen Pembalap
Jadi Penguasa di Sirkuit Sachsenring, Marc Marquez Samai Rekor Legenda Giacomo Agostini
Jorge Lorenzo Akui Marc Marquez Kini Lebih Cerdas dan Kuat Mental