SportlinkNews - Tudingan tajam dialamatkan kepada pembalap Monster Energy Yamaha, Alex Rins, terkait keberadaannya di jajaran grid kelas utama yang dianggap hanya karena faktor asal usul. Mantan pembalap MotoGP, Scott Redding, menyebut bertahannya Rins di tim pabrikan asal Jepang tersebut lebih dipengaruhi oleh kewarganegaraannya ketimbang performa di lintasan.
Pembalap asal Spanyol tersebut mulai membela panji Yamaha sejak musim 2024 setelah memutuskan hengkang dari tim satelit LCR Honda. Namun, perjalanan karier Rins bersama pabrikan berlogo garpu tala itu jauh dari kata memuaskan setelah hanya mampu menyudahi musim di peringkat ke-18 dan ke-19 dalam dua tahun terakhir.
Memasuki kompetisi MotoGP 2026, kondisi pembalap berusia 30 tahun tersebut juga tidak menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang signifikan. Grafik performanya yang terus menurun memicu kritik pedas mengenai kelayakannya menduduki kursi di salah satu tim paling bergengsi dalam dunia balap motor.
Baca Juga: Como 3-4 Inter: Comeback Dramatis Membawa Pemimpin Klasemen Unggul 9 Poin
Hingga melewati sembilan balapan pertama musim 2026, Rins tercatat baru mampu mengumpulkan koleksi tiga poin yang sangat minim. Ia hanya mampu finis di posisi ke-15 pada Grand Prix Thailand serta menempati urutan ke-14 saat berlaga di sirkuit Brasil yang penuh tantangan.
Hasil yang lebih mengecewakan kembali Rins raih saat balapan berlanjut ke Amerika Serikat tepatnya di sirkuit Austin. Di lintasan tersebut, ia gagal total dalam upaya mendulang poin tambahan sehingga posisinya di klasemen sementara semakin terpuruk di papan bawah.
Scott Redding, yang memiliki pengalaman membela sejumlah tim besar seperti Gresini hingga Aprilia, melontarkan kritik yang sangat frontal. Pembalap asal Inggris tersebut menilai Rins tidak pantas menyandang status sebagai rider tim pabrikan jika melihat rekam jejak prestasinya yang inkonsisten.
Baca Juga: Bintang Liga Premier Ini Punya Tato Mengharukan Tentang Pelatih Toze
Redding meyakini dominasi Spanyol di kancah MotoGP memberikan keuntungan tersendiri bagi para pembalap dari negeri Matador tersebut. Basis penggemar dan dukungan finansial yang besar dari Spanyol serta Italia dianggap telah menguasai struktur kepemilikan kursi di tim-tim besar.
"Negara-negara seperti Spanyol dan Italia kan jantung olahraga ini, di sanalah uangnya berada," kata Redding dikutip dari pemberitaan Corsedimoto.
Redding kemudian merujuk pada komposisi pengisi grid MotoGP yang didominasi oleh kewarganegaraan tertentu selama tiga musim terakhir. Fenomena ini menurutnya menjadi hambatan bagi pebalap berbakat dari negara lain yang ingin berkompetisi di tim papan atas.
Baca Juga: Genoa 2-1 Sassuolo: Diwarnai 2 Kartu Merah, Jay Idzes dkk Tumbang di Stadio Ferraris
"Lihat saja grid MotoGP dalam tiga tahun terakhir, khususnya tim-tim pabrikan; pembalap-pembalapnya semua orang Spanyol dan Italia," ucapnya.
Kritik Redding mencapai puncaknya saat secara spesifik mempertanyakan alasan Yamaha tetap mempertahankan jasa Rins di dalam tim. Ia merasa banyak pembalap lain yang lebih layak namun terabaikan karena tidak memiliki koneksi kuat dengan pusat kekuatan ekonomi olahraga ini.