SportlinkNews - Tim satelit Pramac Yamaha menilai kejuaraan MotoGP harus memfokuskan strategi bisnisnya pada peningkatan pendapatan daripada sekadar memangkas biaya operasional. Langkah komersial ini dianggap jauh lebih mendesak guna memperkuat ekosistem balap motor dunia.
Pandangan tersebut diutarakan oleh Bos Pramac Yamaha Paolo Campinoti saat menyoroti arah pengembangan industri balap terkini. Menurutnya, MotoGP memiliki ceruk pasar tersendiri yang tidak dapat disamakan secara mentah-mentah dengan Formula 1.
"Formula 1 saat ini memiliki penonton yang berbeda dengan kami. F1 sudah bergeser sepenuhnya ke segmen premium, sehingga masih ada banyak ruang bagi kami untuk menempatkan MotoGP pada posisi yang lebih baik," kata Campinoti dalam siniar Mig Babol milik Andrea Migno, seperti dikutip GPOne.
Baca Juga: Kim Sang-sik: Vietnam Wajib Menang atas Indonesia
Ajang balap roda empat Formula 1 memang telah bertransformasi menjadi salah satu kompetisi dengan nilai komersial paling megah di dunia. Keberhasilan tersebut dicapai lewat penjangkauan penonton muda serta penyediaan layanan kelas atas bagi para penggemar.
Meski demikian, Campinoti menganggap MotoGP tidak realistis jika memaksakan diri meniru secara penuh model bisnis F1 hingga ke ranah eksklusif. Hal itu terlihat dari tarif tiket VIP Paddock Club di F1 yang mampu menembus angka di atas 15 ribu euro atau sekitar Rp284 juta.
"Itu bukan langkah yang tepat, dan mustahil mencapai level seperti itu. Tetapi kami tentu bisa bergerak sedikit ke arah sana," ujarnya.
Baca Juga: Bangkit! Timnas Voli Putri Indonesia Petik Kemenangan Perdana di SEA V Cup 2026
Campinoti menilai bahwa menjiplak strategi segmen super premium F1 bukanlah solusi bijak bagi karakter penonton balap motor. MotoGP dianjurkan untuk membentuk jalan mandiri tanpa kehilangan basis penggemar setianya.
Di sisi lain, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan MotoGP selama beberapa tahun terakhir dianggap belum mampu membawa perubahan fundamental. Penyelenggara sebelumnya telah memberlakukan sistem elektronik standar hingga penyeragaman satu pemasok ban.
Langkah penghematan tersebut juga dibarengi dengan pemangkasan durasi sesi latihan serta pemotongan jadwal balapan kelas Moto2 dan Moto3. Kendati demikian, berbagai kebijakan pengetatan biaya itu dinilai tidak memberi efek signifikan pada neraca keuangan.
"Untuk meningkatkan pendapatan, kami perlu melakukan sesuatu yang sedikit lebih... sulit dijelaskan, tetapi lebih menarik," ucapnya.
"Kalau kita terus bicara menghemat 100 euro untuk biaya transportasi, silakan saja. Memang ada penghematan. Tetapi perubahan yang sesungguhnya datang dari peningkatan pendapatan, bukan dari memangkas biaya," ia menambahkan.