Women's International Day 2025: Perjuangan Atlet Putri dalam Menembus Budaya Patriarki di Dunia Olahraga

Gbonk Anaqy Setyawan, Sportlink News
- Senin, 17 Maret 2025 | 23:49 WIB
Akademisi olahraga yang juga wasit rugby nasional, Salsa Senja dan pelari marathon nasional, Triyaningsih dalam diskusi olahraga yang digelar KONI Pusat memperingati Women's International Day 2025.
Akademisi olahraga yang juga wasit rugby nasional, Salsa Senja dan pelari marathon nasional, Triyaningsih dalam diskusi olahraga yang digelar KONI Pusat memperingati Women's International Day 2025.

SportlinkNews - Di dunia olahraga, terutama di Indonesia, perempuan masih menghadapi berbagai tantangan yang berasal dari budaya patriarki yang mengakar kuat.

Hal tersebut diungkapkan akademisi olahraga Salsa Senja dan pelari maraton nasional Trianingsih dalam acara diskusi yang digelar Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat dalam rangka memperingati Women's International Day 2025.

Salsa dan Triyaningsih pun berbagi pengalaman mereka dalam menghadapi diskriminasi dan berjuang untuk kesetaraan di dunia olahraga.

Bagaimana melawan stigma dalam olahraga yang lebih banyak digeluti laki-laki, lalu bagaimana kesetaraan gender dalam dunia olahraga kini, dan tentang masa depan olahraga perempuan di Indonesia.

Baca Juga: Performa Berbeda Marc Marquez dan Bagnaia, Ducati Akui Ada Masalah Teknis

Sebagai wasit rugby nasional yang merupakan olahraga yang didominasi laki-laki, Salsa Senja merasakan langsung bagaimana skeptisisme terhadap perempuan masih tinggi. 

Pernah menjadi satu-satunya perempuan Asia yang memimpin pertandingan dengan peserta mayoritas dari Eropa, Salsa mengungkapkan bahwa awalnya ia sering dipandang sebelah mata.

Bahkan, sempat ada protes yang meminta dirinya diganti. Namun, dengan ketegasan dan performa yang profesional, ia berhasil membuktikan bahwa kualitas lebih penting daripada gender.

"Mau perempuan atau laki-laki, kalau kamu bagus, pasti semua orang akan respek. Memang effort-nya harus lebih besar untuk membuktikan diri, tetapi ketika melihat performa kita yang bagus, mereka pasti akan tunduk," ujar Salsa.

Baca Juga: PSSI Gandeng Indomaret Hadirkan Cheers Jersey, Alternatif Murah & Resmi

Trianingsih, sebagai salah satu pelari perempuan terbaik Indonesia, juga menghadapi tantangan serupa. Dia bercerita, dulu, perempuan jarang ikut serta dalam maraton, bahkan ada pembatasan yang membuat mereka sulit berkompetisi.

Namun, seiring waktu, lebih banyak perempuan mulai terlibat dalam olahraga lari. "Dulu, pada 1990-an, jumlahnya sangat sedikit dan sempat dilarang untuk perempuan ikut marathin," ucap Tri.

"Tapi saya senang, karena sekarang sudah banyak perempuan yang ikut lari, ya harapannya ke depan makin banyak perempuan berani memulai dan tidak takut mencoba," katanya.

Meskipun sudah ada perkembangan dalam penerimaan perempuan di dunia olahraga, masih ada tantangan yang perlu diperbaiki, seperti pelecehan seksual dan stigma terhadap pakaian olahraga perempuan.

Baca Juga: Bruno Fernandes Sakit Hati, tapi Termotivasi Kritik Tajam Roy Keane

"Saat lari, jangan sampai ada catcalling atau bahkan pelecehan seksual, lalu yang disalahkan pakaiannya. Kita harus menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi perempuan dalam berolahraga," tutur Tri menambahkan.

"Ini menjadi tantangan yang harus terus kita (perempuan) hadapi kedepannya. Bagaimana memberikan edukasi bahwa pandanglah olahraga jadi aktifitasnya bukan dari tampilannya," tambahnya.

Baik Salsa maupun Trianingsih optimis bahwa masa depan olahraga perempuan di Indonesia akan semakin baik. 

Dengan adanya Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang mulai menerapkan kesetaraan gender, kesempatan bagi perempuan untuk berprestasi semakin terbuka lebar.

Baca Juga: Bukan yang Pertama, Sandy Walsh Susul Emil Audero dan Jordi Amat Tantang Ronaldo

"Di Olimpiade saja sudah ada kesetaraan jumlah atlet laki-laki dan perempuan. Ke depan, saya berharap semua cabang olahraga bisa lebih inklusif dan perempuan bisa merasa nyaman dalam berkompetisi," tutur Trianingsih.

Untuk mematahkan budaya patriarki di Indonesia, Salsa pun berpesan agar perempuan berani mengambil peran sebagai pemimpin di dunia olahraga.

Menurutnya, jika tidak ada peluang yang diberikan, mari ciptakanlah peluang itu sendiri.

Baca Juga: Ini 17 Stadion yang Direnovasi Diresmikan Presiden Prabowo

"Sering kali perempuan tidak dipercaya untuk memimpin, baik di organisasi maupun klub olahraga. Kita harus membuktikan bahwa perempuan juga bisa menjadi pemimpin yang kompeten, kalau tidak diberi kesempatan, maka kita harus menciptakan kesempatan itu sendiri," tegasnya.

Kesetaraan dalam olahraga tidak hanya diukur dari prestasi, tetapi juga dari bagaimana perempuan diberikan kesempatan yang sama untuk berkembang. 

Dengan semangat "women support women," diharapkan semakin banyak perempuan yang berani mengambil langkah dan meraih prestasi tanpa dibatasi oleh stigma gender.

Editor: Gbonk Anaqy Setyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X