Kepindahan pemain Prancis itu ke Manchester United pada musim panas 2016 dengan biaya rekor dunia saat itu sebesar 89 juta pounds merupakan perubahan besar dalam sepak bola Inggris.
Ia menggemparkan internet dengan salah satu video pengumuman paling ikonik yang pernah ada.
Menampilkan Stormzy, video itu menandai salah satu perpaduan pertama, dan mungkin yang paling signifikan, antara sepak bola dan musik.
Kedatangannya membawa seorang pemain ke Liga Primer yang tidak menyesali dirinya sendiri dalam semua aspek kehidupannya – mulai dari rambut hingga tarian hingga bahkan secara terbuka menunjukkan keyakinan Muslimnya.
Baca Juga: Adidas dan Newcastle United Rilis Jersey Ketiga Musim 2025-2026 Bernuansa Retro
Sayangnya, permainan itu belum siap untuknya. Akibatnya, ia menjadi sasaran perhatian media yang terus-menerus, yang menjadikan kepribadiannya sebagai senjata untuk melawannya dan menggunakannya untuk mengkritiknya.
Bukan rahasia lagi bahwa masa Pogba di Manchester United dipenuhi dengan berbagai ketidakkonsistenan karena berbagai alasan. Namun, poin mendasarnya adalah bahwa kritik sering kali melewati batas antara Pogba, sang pesepakbola, dan Paul, sang pribadi.
Penggemar terbesarnya, Graeme Souness, melambangkan pelanggaran berulang kali terhadap batas antara kritik profesional dan pribadi.
Sejak ia tiba di United, dan bahkan setelah ia meninggalkan klub, Souness sangat kritis terhadap gelandang tersebut.
Baca Juga: Calvin Verdonk Belum Terima Tawaran Resmi dari FC Utrecht, Masa Depan Masih Terbuka
Menyebutnya sebagai 'YouTuber' pada tahun 2017 dan, baru-baru ini, melabelinya sebagai 'si pemalas' pada tahun 2023.
Kecaman terus-menerus itu lebih dari sekadar apa yang terjadi di lapangan dan merupakan masalah yang jauh lebih besar dalam dunia sepak bola.
Di mata media, Pogba menjadi terlalu besar untuk sepatunya — tidak ada maksud bercanda.
Namun, masalah sebenarnya adalah bahwa ia menantang status quo dalam sepak bola Inggris, khususnya persepsi yang sudah lama berlaku tentang menjadi seorang pemain bola.
Baca Juga: Manchester United Mengikat Kid Messi, Ronaldo Jr Terabas Tim U-18
Sudah terlalu lama, para pemain diharapkan untuk hidup seperti robot, membatasi kepentingan pribadi apa pun atas nama performa.