culture

Atlet Profesional Tak Luput dari Ritual Olahraga

Rabu, 1 Januari 2025 | 11:35 WIB
Atlet profesional tak luput dari ritual sebelum memasuki arena pertandingan maupun di lapangan.


Sportlinknews - Apakah Anda memakai kaus kaki yang sama di setiap pertandingan? Atau mendengarkan daftar lagu yang sama saat pemanasan? Bagaimana dengan memvisualisasikan perlombaan Anda pada malam sebelumnya?

Ritual olahraga terlihat berbeda untuk setiap atlet. Tapi tujuannya sebagian besar tetap sama: untuk meningkatkan kepercayaan diri dan memperoleh kendali.

Apa itu ritual olahraga?
Ritual dalam olahraga adalah perilaku atau tindakan yang diyakini atlet memiliki kekuatan untuk memengaruhi performa mereka. Jika seorang atlet lupa melakukan ritual, secara umum diyakini bahwa hal itu akan berdampak negatif pada performa mereka.

Ritual sangat melekat dalam budaya olahraga, sehingga seluruh tim olahraga dan penggemarnya telah mengembangkan ritual yang terkenal. Misalnya, jenggot saat playoff.

Baca Juga: Khitanan Untuk Negeri 2024: Kolaborasi Bakrie Untuk Negeri, Persija, dan The Jakmania Sukses Digelar

Bersama-sama, penggemar dan atlet mendukung tim dengan tidak mencukur jenggot mereka selama playoff. Sementara banyak tim olahraga yang melakukan ritual ini saat ini, jenggot saat playoff diperkenalkan oleh pemain hoki es yang berpartisipasi dalam playoff Piala Stanley pada awal 1980-an.

Manfaat Psikologi Dari Ritual Olahraga
Ritual lebih dari sekadar takhayul yang dikembangkan atlet selama karier bermain mereka. Ritual dikenal dapat meningkatkan kepercayaan diri dan rasa kontrol pada atlet.

Jika melakukan perilaku tertentu membuat atlet merasa bahwa mereka akan bermain lebih baik, maka mereka kemungkinan akan memasuki kompetisi dengan keyakinan untuk tampil lebih baik.

Baca Juga: Mode Berani Lewis Hamilton Dikecam Aneh dan Tidak Pantas

Beberapa atlet beralih ke visualisasi atau imajinasi terbimbing untuk mengingat kembali apa yang mereka rasakan selama perlombaan yang sangat sukses dan bagaimana rasanya mempersiapkan diri secara mental dan fisik untuk kompetisi.

Namun, jika ritual itu penting, mengapa beberapa atlet mengembangkan ritual dan yang lainnya tidak?

Para peneliti telah menemukan bahwa atlet yang memiliki lokus kontrol internal yang kuat, yang berarti mereka percaya bahwa mereka dapat mengendalikan performa mereka, memiliki lebih sedikit takhayul daripada atlet yang mengaitkan keberhasilan dan kegagalan mereka dengan pengaruh eksternal.

Baca Juga: Latihan di Ketinggian: Kelebihan, Kekurangan, dan Perannya dalam Sport Science

Atlet yang tidak memiliki lokus kontrol internal yang kuat memandang takhayul sebagai cara untuk memperoleh sedikit lebih banyak kendali.

Halaman:

Tags

Terkini