Tak hanya soal tampilan, detail historis juga disematkan.
Baca Juga: KONI Jabar Gelar POPDA, Pemprov Ucapkan Terima Kasih
Logo klub yang dipakai terinspirasi dari era 1960-an, masa ketika Sampdoria mulai menegaskan eksistensinya di sepak bola Italia.
Lambang Salib St. George, bendera yang erat kaitannya dengan kota Genoa, menjadi pusat dari desain ini.
Tambahan tulisan “Blu di Genova” di bawah kerah semakin memperkuat hubungan antara jersey dan warisan budaya kota.
Baca Juga: Ilmu Tenis: Bagaimana Pemain dan Raket Bekerja Sama
Dengan pendekatan ini, Macron tidak sekadar merilis kostum alternatif, melainkan sebuah karya yang menjembatani masa lalu dan masa kini.
Jersey ini menunjukkan bahwa seragam sepak bola bisa lebih dari sekadar perlengkapan bertanding.
Ia dapat menjadi simbol kebanggaan, representasi budaya, sekaligus pernyataan mode.
Baca Juga: Ruben Amorim Keras Kepala: Paus Pun Tidak Akan Memaksa Saya Mengubah Taktik
Peluncuran jersey ini menandai babak baru bagi Sampdoria yang tengah berusaha bangkit di Serie B.
Klub seolah ingin menegaskan bahwa meski berjuang di kasta kedua, mereka tetap menjunjung tinggi tradisi dan identitas kota.
Dengan denim yang dulu menjadi pakaian kerja keras para pelaut, kini pemain Sampdoria membawa semangat yang sama ke lapangan hijau.
Baca Juga: Ini Penyebab Karier Neymar di Santos Bisa Tamat
Bagi para penggemar, kostum ketiga Sampdoria musim ini sudah tersedia melalui Macron, menjadi koleksi yang menyatukan kecintaan pada sepak bola sekaligus apresiasi terhadap sejarah denim asal Genoa.