"Suasana dan kerumunan yang tidak bersahabat itulah yang saya sukai dari sepak bola. Saya pikir sebagian besar penggemar akan membayar banyak uang untuk menonton mereka," katanya.
Pada akhirnya, Boca tidak dapat menemukan hasil yang mereka butuhkan saat melawan tim amatir dari Auckland, di mana seorang guru magang, Christian Gray, mencetak gol yang membuat mereka bermain imbang 1-1.
Peluit tanda berakhirnya pertandingan memicu selebrasi emosional dari para pemain Auckland yang tetap berada di lapangan selama beberapa menit untuk merayakan keberhasilan mereka.
Baca Juga: Duet Rezaldi-Hamra Lengkapi Deretan Pemain Bersaudara di Skuat Persib
"Jujur saja, saya tidak punya kata-kata untuk menggambarkannya. Ini momen spesial bagi klub. Kami telah bekerja keras dan ini adalah hari yang tidak akan pernah kami lupakan", kata Christian Gray.
Di tengah perayaan tim berjuluk Navy Blue tersebut, para penggemar Boca tetap bernyanyi.
Mereka melantunkan nyanyian tradisional mereka: "soy bostero, es un sentimiento, no puedo parar" ("Saya seorang bostero, ini adalah perasaan, saya tidak bisa berhenti").
Para pemain Boca Juniors pun bergerak menghampiri mereka untuk menunjukkan rasa terima kasih mereka. Cavani bertahan selama beberapa menit untuk memberi penghormatan kepada para Bostero.
Mereka terus bernyanyi dan menunjukkan cinta kepada tim mereka saat Boca mengucapkan selamat tinggal kepada Piala Dunia Antarklub 2025.
Artikel Terkait
Tifo Raksasa Kreativitas Suporter Timnas Indonesia Runtuhkan Tembok China
Jadi Homebase PSM Makassar, Stadion BJ Habibie Dibanjiri 30 Ribu Lebih Suporter
Tragedi Sepak Bola, Tiga Suporter Tewas 70 Orang Cedera di Stadion
Fanatisme Suporter Timnas Indonesia Buat Vietnam Terpukau